BERITA EKONOMI UMMAT KONGRES UMAT ISLAM UTAMA

Chairul Tanjung: Jika Umat Jadi Buih, Ulama Ikut Salah

Chairul Tanjung (dok)
 

Pangkalpinang, Hajinews.id,- Umat Islam tidak boleh menjadi ‘buih’ dalam lautan tetapi harus meniadi gelombangnya. Oleh karena itu, secara ekonomi juga harus kuat dengan jalan ‘usaha’ yang halal dan syar’i untuk mencapai kekuatan sebagai jalan bahagia di dunia dan di akhirat. Cara untuk menjadi pengusaha sebenarnya tidak sulit tetapi juga tidak cukup seperti hanya belajar teori berenang tetapi tidak pernah menjamah air walau tak dalam.

“Harus terun langsung ke dunia usaha. Dengan pengetahuan dan teori, langsung terjun nanti akan mendapatkan ilmu dan teori baru dalam menjalankan usaha. Setiap generasi melahirkan pola dan tren masing-masing. Generasi dulu bisnisnya nasi Padang yang banyak santannya, generasi milenial kuliner yang ada keju-kejunya. Jadi harus pandai membaca tren,”jelas Mantan Menteri Koordinator Perekonomian di Kabinet Indonesia Bersatu II Chairul Tanjung.

Tanjung menularkan semangat interpreneurship kepada para peserta Kongres Umat Islam Indonesia atau KUII VII di Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung, Kamis (28/02/2020) lalu. Pengusaha yang akrab dipanggil CT menyampaikan materi “Strategi Perjuangan Umat Islam di Bidang Ekonomi” dalam Sidang Pleno ke-8 KUII VII.

Tokoh nasional yang akrab dipanggil CT menyampaikan, Indonesia menyimpen potensi besar sebagai negara terpadat keempat di dunia dengan populasi 260 juta jiwa. “Populasi kita mencakup 13 persen dari populasi Muslim dunia. Namun menurut majalah Forbes, dari 20 orang terkaya di Indonesia cuma satu yang muslim, padahal 88 persen penduduk NKRI adalah muslim,” ujar CT. Satu orang Muslim yang masuk dalam 20 orang terkaya versi Forbes itu tidak lain adalah CT sendiri.

“Hadits Nabi menyatakan bahwa umat Islam nanti kalah meski jumlah mereka banyak. Jumlah banyak tidak ada gunanya jika seperti buih di lautan. Kita harus mengubah diri agar menjadi penguasa lautan,” kata Mantan Menko Perekonomian itu.

Berita Terkait

Umat Islam masih mengalami hambatan dalam menjalan usaha karena terhalang lima hal, yaitu kebodohan, kemiskinan, kesenjangan atau ketertinggalan, ketidakpedulian dari umat yang berkuasa dan kemalasan.

“Masih hanyak umat kita bodoh, akibatnya kalah bersaing. Kunci pertama jika umat Islam ingin menguasai ekonomi, maka harus memerangi kebodohan. Itulah yang harus diperangi agar tidak menjadi buih di lautan, tetapi penguasa lautan,” ujar CT.

Untuk mengubah keadaan, umat Islam harus memulai dari aset terbesar yang dimiliki, yaitu jumlah yang besar. Jumlah Muslim Indonesia 230 juta, namun masih terkotak-kotak. “Kalau kita tetap terfragmentasi, maka kita tidak akan bisa memperbaiki umat kita. Tidak ada kata lain kecuali kita bersatu. Tanpa bersatu, jangan harap kita besar. Umat Islam harus membangun usaha dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Salah satu cara yang harus dilakukan adalah memperbanyak pengusaha Muslim di Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini mudah meniadi seorang pengusaha. Entrepreneur adalah orang yang bisa membaca peluang dan kemudian menangkapnya. Sementara kalau hanya bisa membaca peluang saja maka namanya konsultan. Orang Indonesia ahli melihat tetapi tidak ahli menangkap. Prinsip entrepenurship adalah membeli masa depan dengan harga sekarang, bukan membeli masa lalu dengan harga sekarang. Orientasi entrepeneur adalah hasil akhir, bukan prosesnya. Selain itu juga harus harus disiplin, detail, dan perfeksionis atau menuntut kesempurnaan dalam menjalankan usahanya.

Dalam hal ini, ulama harus memfasilitasi dan memberikan pendampingan. “Jangan biarkan umat kita kalah dan tersia-sia. Kalau umat kita kalah-menang jumlah tapi kalah ekonomi, maka yang salah adalah ulamanya,” kata CT.

Tema penguatan ekonomi mendapat tanggapan positif dari peserta kongres yang mayoritas adalah pengurus MUI se-Indonesia. Kehadiran delegasi ormas Islam seperti IPHI dan kelompok cendikiawan dari kampus makin menguatkan forum-forum pembahasan masalah dan solusi masa depan umat. (ma)

Facebook Comments
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita ini ?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Tinggalkan Komentar