BERANDA BERITA GAYA HIDUP

Durian Simas, Dipercaya Aman untuk Penderita Diabetes

Jombang, hajinews.id-Selain Bido, di Wonosalam, Jombang, juga terdapat durian Simas. Ini adalah durian khas yang daging buahnya berwarna orange.

Durian ini juga banyak diburu karena dinilai aman dan tidak berdampak buruk pada kesehatan. Utamanya penderita diabetes dan kolesterol.

“Durian Simas ini sangat laris karena dipercaya aman untuk penderita kolesterol dan diabetes, padahal harganya lebih mahal dibanding durian lokal,” ungkap Suliswanti, salah satu petani durian yang tinggal di Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.

Foto: Jawapos/Radar Jombang

Sekilas, durian Simas sama seperti durian pada umumnya. Hanya saja, kulit cenderung cokelat kekuningan. Bentuknya lonjong memanjang, lapisan kulitnya tak terlalu tebal. Berbeda dengan durian bido yang buahnya cenderung berwarna putih pucat. Begitu dibelah, durian Simas sangat menarik karena berwarna oranye segar.

Bahkan ada yang sampai kemerahan, mirip seperti warna nangka matang. Tekstur buahnya juga cukup tebal. Durian Simas tak terlalu manis, cenderung hambar, buahnya kering, dan baunya tak begitu menyengat. Bagi pecinta durian, Simas hanya menarik warnanya yang mencolok, tapi sama sekali tak nikmat saat dimakan.

Berita Terkait

Tapi bagi penderita diabetes maupun kolesterol tinggi, durian Simas  yang paling diidamkan. Karena durian ini diklaim aman dan rendah kolesterol dan alkohol. “Meskipun rasanya hambar begini tapi laris sekali. Banyak yang menyebut durian telo karena kering buahnya,” tambah Suliswanti.

Biasanya, lanjut dia, durian Simas tak langsung dimakan setelah jatuh dari pohon. Didiamkan selama beberapa hari dulu, sampai betul-betul matang. “Pembeli suka yang dalu (terlalu matang, Red), katanya lebih enak. Makanya kulit sampai seperti kayu, cokelatnya kering,” tambahnya lagi.

Meski berasa hambar, harga durian Simas lebih mahal dibanding durian lokal yang rasanya lebih manis. Durian Simas dijual paling murah dengan harga Rp 80 ribu per biji. Sedangkan durian lokal paling murah  Rp 40-50 ribu per biji, tergantung besar kecil. Suliswanti sendiri memiliki beberapa pohon durian Simas.

Meski tak sebanyak pohon durian lokal, durian Simas yang tumbuh di belakang rumahnya cukup lebat ketika berbuah. Ia memiliki 10 pohon, yang setiap tahun berbuah lebat. Tahun ini, hasil panennya lebih banyak. Satu pohon bisa berbuah 30-40 biji. Durian yang sudah dipanen itu kemudian diambil tengkulak ke rumah. “Kadang saya panen sendiri,” beber dia.

Dari 10 pohon durian yang ia tanam, jenisnya hanya lokal dan durian Simas. “Tidak punya bido, hanya lokal dan Simas, lainnya tidak ada,” terang dia. Rata-ratam pohon durian yang ditanam, baru panen setelah tiga atau empat tahun. Kecuali durian Simas tumbuh lebih cepat. “Ada yang masih pendek sekali sudah berbuah. Biasanya yang pendek-pendek itu durian Simas,” pungkasnya. (jawapos)

 

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: