Membaca Skenario Hadang Anies di Pilpres 2024 (4)

Anies Baswedan mengontrol banjir (dok)

banner 800x800

banner 800x800

banner 400x400

Jakarta, Hajinews.id,- Bagian ini menjelasakan alasan mengapa diduga ada usaha menjegal Anies Baswedan pada Pilpres 2024, karena banyak perkara yang tidak wajar dipersoalkan, salah satunya adalah pembentukan Pansus Banjir. Faktanya banjir lebih parah justru di luar Jakarta, bukan di Jakarta.

  1. Pembentukan Pansus Banjir

Pengamat Kebijakan Publik Amir Hamzah menilai, pembentukan Pansus oleh DPRD DKI Jakarta diduga merupakan kebijakan politik demi menjatuhkan citra Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan tujuan untuk menjegalnya agar tidak mencalonkan diri di Pilpres 2024.

Bacaan Lainnya

“Banjir di awal Januari 2020 kemarin tidak hanya terjadi di Jakarta, juga terjadi di sejumlah daerah di Jawa Barat dan Banten. Di sana banjir bahkan lebih parah dibanding banjir di Jakarta, tapi kenapa DPRD di Jawa Barat dan Banten tidak membentuk Pansus Banjir?” katanya kepada dekannews.com, Minggu (12/1/2020).

Ia menegaskan, banjir di Jakarta, Jawa Barat dan Banten pada awal 2020 disebabkan oleh curah hujan yang oleh BMKG disebut sebagai curah hujan terekstrem dalam 24 tahun terakhir.

Bahkan curah hujan di kawasn Cawang, Jakarta Timur, yang mencapai 377 mm/hari, dinilai merupakan yang terekstrem dalam 154 tahun terakhir.

Dengan alasan yang seperti itu, menurut penilaian Amir, DPRD di Banten dan Jawa Barat pasti paham bahwa ini bencana alam, bukan semata-mata karena masalah drainase.

Apalagi karena posisi geografis Jakarta lebih rendah dari Bogor, dan Jakarta juga dialiri 13 sungai yang mengalir dari Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

“Jadi, kuat sekali dugaan kalau pembentukan Pansus lebih karena alasan politis, karena fraksi-fraksi yang menggagas pembentukan Pansus itu kan fraksi-fraksi yang partainya mengusung Ahok-Djarot pada Pilkada Jakarta 2017. Mereka agaknya belum mampu menerima kekalahan dan belum mampu move on. Padahal, menang kalah dalam kompetisi itu biasa,” katanya.

Meski demikian, ketua Budgeting Metropolitan Watch (BMW) ini juga melihat kalau sepertinya ada kaitan antara Pembentukan Pansus Banjir dengan video yang beredar beberapa waktu lalu, di mana dalam video itu tergambar jelas adanya upaya untuk menjegal Anies agar tidak maju pada Pilpres 2024, sehingga Anies diserang dengan berbagai penjuru dan berbagai isu yang di antaranya terbukti hoaks.

Seperti isu pembelian pohon plastik, pembelian bak sampah dari Jerman, penangkapan 5 ambulan milik Pemprov DKI Jakarta yang membawa batu dan bensin untuk dipasok kepada demonstran di DPR pada September 2018 silam, dan lain-lain.

Seperti diketahui, tujuh dari sembilan fraksi di DPRD DKI Jakarta sepakat untuk membentuk Panitia Khusus (Pansus) Banjir guna mempermasalahkan banjir yang melanda Jakarta pada awal Januari 2020 .

Ketujuh fraksi yang mendukung pembentukan Pansus Banjir selain NasDem adalah Golkar, PDIP, PSI, PAN, PKB dan Demokrat. Sementara dua fraksi yang menolak pembentukan Pansus adalah Gerindra dan PKS.

Senada dengan Amir, kebanyakan publik pun menilai kalau pembentukan Pansus itu bersifat politis. Setidaknya ini terbaca dari cuitan warganet berikut ini:

  1. Jokowi Sodorkan nama Sandiaga

Presiden Jokowi tentu tidak ingin polarisasi kekuatan itu terjadi di saat pemerintahan periode keduanya baru dimulai. Bukan hanya akan mengganggu stabilitas sosial dan politik, namun juga membuat risih. Siapa pun tentu tidak nyaman jika sedang bekerja direcoki dengan isu-isu terkait penggantinya.

Jika tidak segera dipecah, isu semacam itu akan menggumpal dan mengalihkan perhatian masyarakat sehingga program kerja yang dicanangkan mungkin saja tidak efektif. Terlebih terhadap program-program yang dianggap merugikan jagoannya dan menguntung pihak yang sudah dipersepsikan sebagai lawan.

Sepertinya Jokowi, juga Badan Intelijen Negara (BIN) sudah “membaca” hal itu. “Dukungan” terhadap candaan Jokowi yang dilakukan Kepala BIN Budi Gunawan, tentu bukan kebetulan. Kita bisa saja membacanya sebagai grand design untuk memecah kekuatan pendukung Anies Baswedan.

Mengapa Sandiaga Uno?. Karena Sandiaga adalah sosok yang juga mempunyai maknet untuk menjadi salah satu Capres mendatang. Mengingat keduanya juga pernah berduet pentas Pilgub DKI 2017 .Sebagai sebuah kemungkinan, tentu tidak bisa dinafikan. (bersambung)


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.