BERANDA OPINI PENDIDIKAN

Improving Quality Through ICT

Memperkuat Integrasi Sumber Belajar dan Jejaring Kerjasama Internasional

 

Oleh

Hanief Saha Ghafur

Dosen SKSG Universitas Indonesia

Ketua PBNU Bidang Pendidikan

 

KAMIS 2 sd 6 Januari saya ke Taiwan memenuhi undangan dua perguruan tinggi negeri, yaitu : NTNU (National Taiwan Normal University) di Taipei & NDHU (National Dong Hwa University) di Hualien. Jumat 3/1 kami terbang ke kota Hualien. Ada tiga agenda di kota ini, yaitu ke NDHU, Tzu Chi University, dan ke Toroko Park.

Di NDHU saya diundang ceramah dan diskusi di hadapan mahasiswa dan dosen Pascasarjana  FKIP. Moderator dipimpin oleh Dekan FKIP. Usai sesi, kami diterima pimpinan NDHU, khususnya Direktur International Office.

Pak Direktur minta dijembatani kerjasama dengan PT Indonesia. Sedang saya minta alokasi beasiswa dan kolaborasi riset. Alhamdulillah NDHU beri respon positif dengan menyodorkan formulir beasiswa. Saat ini ada sekitar 100 mahasiswa Indonesia di NDHU. Ketemu dengan beberapa dosen dari Indonesia yang sedang S3 di NDHU.

Dari NDHU kami bergeser ke Tzu Chi University milik Buddha Tzu Chi Foundation. Saya ke Tzu Chi untuk menindaklanjuti kerjasama. Tzu Chi University juga menyediakan beasiswa.

Terutama untuk bidang ilmu-ilmu kesehatan. Selain ke universitas, saya berkunjung ke Tzu Chi Hospital & Viharanya. Dari Tzu Chi kami bergeser ke Taroko National Park. Walaupun capek kami sekedar menghormati ajakan mereka.

Pada hari ketiga di Taiwan, saya hadir memenuhi undangan NTNU Taipei (Sabtu 4/1/20). NTNU adalah PT terbaik kelas dunia. NTNU untuk subyek PT pendidikan  ada di posisi ranking ke 15 versi THE World University Ranking 2019. Konferensi di NTNU ini mengangkat tema besar tentang “Technological & Vocational Education”.

Hadir dalam konferensi international ini para akademisi dan praktisi ICT, antara lain dari Jepang, Hongkong, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Saya diundang sebagai Keynote speaker di plenary session dan menyampaikan presentasi berjudul : Improving Quality Through ICT. (The Case of Higher Education in Indonesia). Presentasi ini didasarkan atas cuplikan makalah riset saya untuk Journal.

Paparan ini memberi gambaran dan cara mudah mengimplementasikan ICT ke seluruh bagian dari PT. Baik administrasi dan pembelajaran. Posisi Indonesia saat ini, untuk integrasi data administrasi ke Dapodik, Pusdatin, dan PD-Dikti sudah berjalan.

Namun mengintegrasikan sumber belajar masih belum berjalan. Agenda kebijakan dan usaha ke arah itu belum ada. Baik integrasi di internal masing-masing PT, antar PT, dan sumber belajar yang ada di luar PT. Terutama yang dimiliki kementerian/ lembaga lain di Indonesia.

Berita Terkait

Dalam implementasi,  setidaknya ada 3 kata kunci, yaitu : menyiapkan infrastruktur, membuat networking, connecting, dan integrating. Pada saat ini PT Indonesia masih berada di level implementasi internal masing-masing.

Namun ke depan harus dibangun konsolidasi untuk saling berbagi sumberdaya antar PT,  mengintegrasikan semua proses administrasi dan pembelajaran, dan memberi sentuhan ICT kepada semua bagian.

Setelah infrastruktur masing-masing PT Indonesia sudah kuat, maka ke depan harus menyatukan semua sumberdaya. Menyatukan semua PT Indonesia, khususnya sumberdaya pembelajaran ke dalam satu kesatuan yang biasa kita kenal sebagai “virtual campus based on one cloud system (kampus virtual berbasis satu langitan)”.

Bila kita belum mampu punya dan sampai ke tingkat cloud, setidaknya masing-masing PT sudah punya server sendiri. Nantinya kita semua harus punya komitmen dan tekad untuk menyatukan server atau cloud  masing-masing PT ke dalam satu cloud sumber belajar saja.

Saat ini negara kecil seperti Taiwan dan Singapura sedang bergerak untuk menyatukan dan mengintegrasikan sumber belajarnya ke dalam satu cloud. Bila itu terjadi, maka ranking PT Taiwan dan Singapura akan melesat naik.

Bagi sebagian dari kita, mungkin ide itu terlalu ambisius, sulit dirajut, dan dijangkau. Namun dengan tekad dan semangat kuat kita optimis ide bisa juga kita wujudkan untuk PT Indonesia. Sebab tanpa integrasi proses, tanpa berbagi sumberdaya, dan tanpa jejaring rajutan ICT, sulit PT Indonesia bisa melakukan lompatan mutu dan punya daya saing di masa depan.

Sejatinya sumberdaya pembelajaran kita itu kaya. Aset pembelajaran kita melimpah. Namun masih terserak antara satu dengan yang lain. Terserak antarkementerian, antarperguruan tinggi, antarfakultas, dan antarprodi.

Bahkan masih ada sebagian yang belum sadar bahwa kita kaya. Atau kaya, tetapi belum mampu mengkonsolidasi dan mengkapitalisasi aset-aset dan sumberdaya kita sendiri.

Nanti ke depan PT Indonesia harus semakin cerdas dan kreatif mengkapitalisasi dan mengintegrasikan aset yangg ada. Khususnya sumberdaya pembelajaran kita. Tidak boleh ada kesenjangan mutu akibat akses yang terserak dari sumber belajar kita yang tidak terintegrasi.

Sumberdaya pembelajaran kita yang terserak di berbagai institusi perlu diintegrasikan ke dalam perguruan tinggi atau PT kita diberi akses luas. Sumber belajar yang dimiliki LIPI, LON, LAPAN, BATAN, dan sebagainya luar biasa kaya.

Contoh LIPI misalnya. Bila LIPI itu berkolaborasi riset dgn UI sangat besar manfaatnya bagi kedua belah pihak. Peneliti LIPI bisa ngajar di UI. Riset LIPI bisa menjadi bagian dari riset UI juga. Insya Allah ranking UI naik dan tidak kalah dibanding NUS, NTU, dan bahkan UCLA, Yale, Chicago, Princeton, dll.

LIPI dan BPPT tidak perlu  berkantor di Gatot Subroto dan Thamrin, dekat atau masuk di kampus UI. Agar tidak menambah kemacetan jalan di Jakarta. Selain itu, yang terpenting LIPI dan BPPT tidak dipersaingkan, tidak ada rating, dan tidak ada ranking. Jadi perlu perlu kolaborasi, bahkan integrasi dengan institusi yang dipersaingkan.

Mengapa penting? Sebab perguruan tinggi itu dipersaingkan.  Bisa juga disebut karena dipaksa masuk ke dalam struktur persaingan pasar yg keras. PT boleh dibuka, ditutup, atau mati karena persaingan. Walaupun UNESCO selalu berfatwa bahwa pendidikan itu public goods, noncommercial basis, nontradable, dan not in competition.

Tetapi fatwa hanyalah fatwa. Sekadar enak untuk ceramah dan diskusi. Mengapa ? Karena negara tidak terikat dengan fatwa. Tetapi terikat dengan ketentuan WTO yang wajib diratifikasi dan diundangkan. Setiap negara harus terbuka dan tidak boleh membuat hambatan. Baik hambatan tarif maupun investasi. Termasuk bidang pendidikan.

Oleh karena itu, untuk bersaing PT Indonesia dituntut bermutu,  punya public accountability dan customer satisfaction. Jangan sampai pengelola PT Indonesia merasa tidak perlu bersaing. Semangat bersaing adalah motor penggerak mutu dan sukses  merealisir program. Salam. (*)

Taipei, Januari 2020

Facebook Comments

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: