Dari Abu Dhabi Din Syamsuddin Ingatkan Jangan Ada Klaim Paling Toleran


banner 800x800

banner 400x400

Abu Dhabi, hajinews.id,- Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengingatkan agar tidak ada klaim sepihak paling toleran dan menganggap pihak lain tidak toleran.

“Klaim sepihak yg bersifat subyektif seperti itu justeru akan merusak iklim toleransi yang ada. Tuduhan sepihak seperti itu sering muncul sebagai bermotif politik, dan dengan demikian sikap itu sejatinya merupakan bentuk intoleransi,” kata Din Syamsuddin dari Abu Dhabi Selasa (10/12/2019).

Bacaan Lainnya

Din Syamsuddin sebagai Presiden Asian Conference on Religions for Peace (ACRP) berada di Abu Dhabi dalam rangka mengikuti konferensi tentang konferensi: Toleransi, dari Kemungkinan kepada Keniscayaan (At-Tasamuh Minal Imkan ilal Ilzam /Tolerance From Possibility to Necessity).

Bagi Indonesia menurut Din Syamsudin, toleransi merupakan keniscayaan, apalagi sebagai negara majemuk. Ini prasyarat mutlak menjaga keutuhan, kerukunan, dan persatuan.

Oleh karena itu jika ada kelompok mengkalim paling toleran dan menuduh pihak lain intoleran, maka bisa berbahaya. Dari pada mengembangkan pendekatan bernada fobia demikian, sebaiknya bangsa mengembangkan budaya toleransi sejati.

“Jika ada masalah di antara kelompok-kelompok, sebaiknya dikembangkan budaya dialog. Dialog adalah cara bermartabat utk mengatasi persoalan yang ada,” katanya.

Dari Indonesia, ikut hadir dalam konferensi ini selain Din adalah Prof. Amany Lubis/Rektor UIN Jakarta, Prof. Amal Fathullah Zarkasyi/Rektor Unida Gontor, Prof. Khuzaimah Y Tanggo/Rektor IIQ, serta KH. Abdullah Jaidi/Ketua MUI, dan Dr. Zaitunah/Dosen UIN Jakarta.

Din Syamsuddin menyambut baik percakapan tentang toleransi ini dan menganggapnya sebagai pilar kehidupan dunia yg majemuk.

Menurut Din Syamsuddin, pengembangan kemajemukan menuntut beberapa prasyarat, antara lain (a) pengakuan akan kemajemukan, (b) kesediaan utk hidup berdampingan secara damai, (c) toleransi, dan (d) kerja sama.

Toleransi, lanjut Din, adalah sikap dan pandangan mengakui bahwa di antara anasir masyarakat majemuk ada persamaan dan ada perbedaan. Toleransi adalah menghargai perbedaan disertai tenggang rasa terhadap perbedaan itu. (Fur/*).


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.