Pesan Politik Lagu Ilir-ilir Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga dan notasi lagu Ilir-iir

banner 800x800

banner 400x400

Oleh: Dr. Mohammad NasihPengajar Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; Pengasuh Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang, dan Redaktur Hajinews.id.

Ternyata lebih banyak orang yang mengira bahwa lagu gubahan Sunan Kalijaga berjudul “Lir Ilir” sebagai sekedar lagu mainan (dolanan) anak-anak di kampung zaman dulu. Padahal lagu itu sangat sarat dengan pesan politik. Pesan itu ia sampaikan kepada raja-raja Jawa agar benar-benar menggunakan kekuasaan yang ada di tangan mereka untuk memperjuangkan agama Islam.

Bacaan Lainnya

Kemungkinan besar, umat Islam menjadi apolitik, bahkan sangat anti politik, karena mereka terpengaruh oleh paradigma yang dibangun di Barat-Eropa pasca Renaissance yang memisahkan antara agama dan politik, tepatnya berawal dari pemisahan antara gereja dan negara.

Paradigma itu disebarkan melalui para akademisi yang belahar di Barat dan terpengaruh oleh paradigma sekukarisme. Padahal di dalam Islam, Rasulullah justru mencontohkan tentang praktik politik yang dijiwai oleh agama dan memang politik digunakan untuk membangun negara sebagai sebuah tempat mengimplementasikan ajaran agama (diin).

Itulah sebab, Yatsrib di bawah kepemimpinan politik Nabi Muhammad disebut dengan Madinah, berarti tempat menjalankan ajaran agama. Ulama besar dan terkenal dalam disiplin kenegaraan bernama al-Farabi menyebut kota itu dengan al-Madiinat al-Fadliilah (Negara Utama). Praktik bernegara itulah yang kemudian dilanjutkan oleh para penggantinya yang mulia yang kemudian dikenal dengan al-khulafaa’ al-raasyidiin (para pengganti yang benar, arif, dan bijaksana).

Memahami dengan baik lagu Lir Ilir mestinya umat Islam menjadi sadar betapa penting politik untuk kehidupan mereka, terutama untuk keberlangsungan agama mereka. Karena itulah, Sunan Kalijaga memulai lirik gubahannya dengan mengingatkan.

Lir ilir; (Sadar sadar!)
Ini menunjukkan bahwa ada indikasi raja Jawa waktu itu belum menyadari dengan baik. Apalagi masyarakatnya.

Tandure wis sumilir. Tak ijo royo-royo. (Tanaman sudah mulai tumbuh dan berkembang. Daunnya sangat hijau).
Ini adalah gambaran keberhasilan dakwah yang dilakukan sebelumnya. Masyarakat Nusantara, Jawa khususnya, yang sebelumnya beragama Hindu, telah melakukan konversi agama, dengan memeluk agama Islam. Mereka menjadi muslim.

Hijau adalah simbol Islam. Konon, warna hijau dijadikan sebagai simbol Islam, karena identik dengan warna surga. Surga adalah kebun (jannah) yang dedaunannya berwarna hijau. Itulah sebab, pada zaman Orde Baru, ketika hanya ada tiga partai, dengan satu partai Islam PPP, logonya didominasi warna hijau.

Tak sengguh penganten anyar. Bagaikan pengantin baru. Semangat orang yang melakukan konversi, karena menemukan sesuatu yang baru adalah semangat yang luar biasa. Bagaikan pengantin baru, karena dorongan cinta yang besar. Maka mereka berusaha mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan sepenuh tenaga. Ibarat besi, mereka adalah besi yang panas. Semangat mereka membara.

Karena itulah, Sunan Kalijaga mengingatkan kepada para raja Jawa agar menggunakan kekuasaan mereka untuk membuat rakyat dengan agama Islam yang baru mereka peluk, bisa menjadi muslim yang kaaffah.

Itu ada dalam lirik “Cah angon, cah angon, penekno belimbing kui. Lunyu lunyu penekno (Wahai penggembala, wahai penggembala, panjatkan pohon belimbing itu. Walaupun licin, tetap panjatkan).
Penggembala adalah sebutan untuk para pemimpin politik. Ungkapan ini hampir bisa dipastikan dipengaruhi oleh sebuah hadits Nabi Muhammad:

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya, penguasa yang memimpin manusia dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, seorang lelaki (kepala keluarga) adalah pemimpin keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan seorang perempuan (istri) adalah pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, dan budak juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari No. 7138)

Di dalam hadits di atas, ada kata raa’in dan ra’iyyah. Yang pertama berarti penggembala yang kemudian diartikan secara kontekstual sebagai pemimpin. Sedangkan yang kedua berarti gembalaan. Kata itu kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi rakyat. Maka rakyat dalam konsepsi ini adalah yang diarahkan oleh pemimpin, seperti penggembala mengarahkan gembalaannya agar memperoleh padang rumput hijau yang membuat semunya menjadi kenyang, dan jangan sampai tersesat dalam perjalanan.

Belimbing merupakan simbol rukun Islam yang lima, karena buah ini memiliki lima sigi. Nah, pemimpin politik memiliki tugas besar dan mulia, yaitu: membuat seluruh rakyat bisa menjalankan rukun Islam yang lima itu. Tentu, sekali lagi, ini adalah simbol. Rukun Islam yang lima itu kemudian harus ditransformasikan dalam tindakan dalam kehidupan keseharian.

Untuk bisa mewujudkan itu, jalannya tidak mudah. Bahkan tidak hanya licin, tetapi juga terjal dan mendaki. Sebab, dalam memperjuangkan itu, seorang pejuang harus berhadapan dengan orang-orang bodoh yang bebal, yang merasa tahu padahal tidak tahu. Juga bisa berhadapan dengan orang yang sebenarnya mengakui kebenaran yang disampaikan kepadanya, tetapi tetap menjadi penentang karena takut kehilangan pengaruh dalam masyarakat. Mereka bersikap begitu karena pengaruh dalam masyarakat juga memudahkan mereka mendapatkan uang.

Walaupun tingkat kesulitannya sangat besar, tetapi harus tetap dijalani. Sebab, jalan politik yang sulit itu adalah jalan yang sangat besar implikasinya, dengan tujuan besar “Kanggo mbasuh dodot iro, untuk menyuci bajumu”. Baju dalam lirik ini adalah bahasa simbol ketakwaan rakyat.

Allah berfirman: “Dan baju takwa, itu adalah yang terbaik” (al-A’raaf: 26).

Pemimpin politik memiliki tugas mulia membuat seluruh rakyat bisa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Untuk itu, para politisi yang memiliki kewenangan membangun kebijakan politik, harus membangun kebijakan politik yang menjamin itu. Sebab, jika seluruh warga negara benar-benar melaksanakan takwa, maka Allah akan melimpahkan berkah.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raf: 96).

Dodot iro, dodot iro, kumitir bedah ing pinggir. Dondomono jrumatono. Kanggo sebo mengko sore (Bajumu rusak karena sobek di bagian pinggirnya. Maka harus dijahit dan disambung rebokennya. Untuk menghadap nanti sore).

Ini merupakan lirik yang mengingatkan bahwa ketakwaan masyarakat masih belum baik. Karena itu harus selalu diperbaiki dan disempurnakan. Sekali lagi, kebijakan politik adalah jalan yang paling efisien untuk mewujudkan itu. Para penguasa harus melakukannya segera. Sebab, waktu yang tersedia tidak panjang. Hidup ini diibaratkan hanya dalam sehari saja. Pagi datang, siang harus beramal atau bekerja, dan sore harus kembali. Lahir, lalu beramal dengan optimal, karena tak lama kemudian akan mati, menghadap kembali kepada Allah. Karena itu, amal-amal untuk mewujudkan kebaikan untuk seluruh rakyat harus benar-benar optimal.

Mumpung jembar kalangane. Mumpung padang rembulane. (Selagi ruangnya luas. Selagi terang bulan.)

Ini adalah bahasa simbol mumpung masih ada kesempatan yang luas untuk memperjuangankan Islam. Dengan kekuasaan politik yang ada di tangan, para raja Jawa bisa tidak hanya menyerukan, tetapi membuat aturan yang mutlak harus dijalankan oleh seluruh rakyat. Jika aturan itu dibuat berdasarkan ajaran al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad, maka akan jadi kebijakan politik yang mengantarkan kepada ketakwaan.

Yo surako, surak iyo. (Terimalah dengan bersorak iya.)
Maknanya, hendaklah para pemimpin politik menerima seruan ini dengan senang hati. Jangan sampai ini menjadi beban. Kesempatan ini adalah kesempatan yang harus dijalankan dengan segera.

Karena itu, umat Islam harus benar-benar sadar politik, agar tidak menjadi korban politik. Wallahu a’lam bi al-shawab.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.