Menhub: Permukaan Jalan Tol Japek II Belum Rata

Tol layang Jakarta-Cikampek II. Foto: Jawapos

banner 800x800

banner 400x400

Jakarta, hajinews.id-Jalan tol layang Jakarta–Cikampek (Japek) II  yang beroperasi 20 Desember diharapkan mampu mengurai kemacetan arus lalu lintas saat libur panjang Natal dan Tahun Baru 2020 (Nataru). Puncak arus mudik liburan diprediksi terjadi pada 21 dan 22 Desember di mana pada saat itu sudah memasuki libur.

Minggu (8/12), Kepala Korlantas Polri Irjen Istiono dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau kesiapan jalan tol layang Jakarta–Cikampek. Mulai Km 8 hingga Km 38. ”Jalan tol layang ini dampaknya besar,” tutur Istiono.

Bacaan Lainnya

Peninjauan bertujuan untuk memastikan kondisi jalan tol layang. Sejumlah titik menjadi perhatian. Di antaranya persinggungan di Km 8 dan rest area. Biasanya kerap terjadi kemacetan di Km 8. ”Persinggungan yang biasanya bikin macet sudah bisa diatasi,” ucapnya.

Meski jalan tol layang siap dioperasikan, Korlantas tetap memiliki sejumlah strategi untuk memperlancar arus mudik Nataru. Menurut Istiono, contraflow dan one way sangat mungkin kembali diterapkan. ”Bergantung kondisi dan situasi, macet atau tidak,” ujarnya. Dua skenario rekayasa lalu lintas itu bisa dilakukan saat puncak kepadatan pada 21–22 Desember.

Istiono menuturkan, berdasar tinjauan lapangan kemarin, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Salah satunya kecepatan evakuasi bila terjadi insiden. Kecepatan penanganannya harus sesuai dengan SOP. ”Kalau tidak, akan membuat kemacetan lebih parah,” jelasnya.

Baca Juga: Bablas, Tak Ada Gerbang Keluar di Tengah Perjalanan Tol Japek II

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyoroti permukaan sebagian jalan yang belum rata. Kondisi tersebut membuat Kemenhub akan membatasi kecepatan kendaraan yang melintas di jalan tol sepanjang 38 km itu. ”Maksimal 60 kilometer per jam, jangan lebih,” tegasnya.

Untuk mengawasi kecepatan kendaraan, Kemenhub telah memasang sejumlah kamera closed circuit television (CCTV) di beberapa titik. Kendaraan yang melebihi batas kecepatan akan diberi sanksi saat keluar dari jalan tol. ”Petugas juga akan disiapkan di tiap 40 meter di jalan tol ini,” urainya.

Soal angkutan, Budi menjelaskan, tahun ini disiapkan 50.317 unit bus. Untuk penyeberangan, ada 228 kapal ro-ro. Lalu 404 unit kereta api, 1.293 kapal untuk moda laut, dan 495 pesawat.

Kemenhub memprediksi terdapat 16,4 juta penumpang yang akan melakukan perjalanan pada Nataru tahun ini. Jumlahnya turun 0,18 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. ”Prediksi jumlah penumpang memang yang paling banyak darat karena jalan tol bertambah. Kami prediksi naik 4 hingga 5 persen. Yang lain itu rata. Udara mungkin turun sedikit,” papar Budi.

Untuk memonitor pelaksanaan dan pengawasan, Kemenhub melakukan pemantauan selama 19 hari. Dimulai pada H-6 angkutan Natal atau 19 Desember sampai H+6 angkutan tahun baru atau 7 Januari. Kemenhub memperkirakan puncak arus libur dimulai pada Jumat (20/12) sampai Selasa (24/12). Sedangkan puncak arus balik diperkirakan jatuh pada Minggu (29/12) hingga Selasa (31/12).

Sementara itu, mengenai aspek keselamatan, Kemenhub telah melakukan ramp check terhadap sejumlah moda transportasi masal sejak 29 November lalu. Rencananya, langkah serupa dilakukan hingga 18 Desember.

Pemeriksaan juga dilakukan terhadap awak pengemudi, masinis, pilot, dan nakhoda. ”Ramp check sudah kami lakukan sejak dua minggu yang lalu. Baik untuk darat, udara, laut, maupun kereta api,” ungkapnya. (wh/jawapos)

 


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.