BERITA PENDIDIKAN UTAMA

Nasihat Dosen untuk Nadiem yang Pakaiannya Kurang Beradab

Pakaian Nadiem saat pelantikan rektor itu

Jakarta, hajinews.id,- Pakaian Kemendikbud Nadiem Makarim dalam acara pelantikan rektor  Universitas Indonesia menjadi hujan kritik. Dikatakan oleh netizen sebagai tidak tepat, kurang beradab dan tak bisa menempatkan diri pada acara apa ia berpakaian. Bagaimanapun ia adalah menteri yang banyak disorot publik, dan bukan lagi bos gojek.

Berikut ini adalah surat terbuka seorang dosen yang secara terang benderang menyayangi Nadiem sebagai yuniornya sekaligus atasannya:

Nasihat untuk Dik Menteri Nadiem yang saya sayangi

Dik Nadiem,
Umar ibn Khatab itu orang yang paling sederhana dalam berpakaian, kesederhanaannya bukan karena ia tak mampu membeli pakaian yang bagus, sebab sejatinya ia pun orang yang (sebenarnya kalau mau) ia kaya raya, dan bahkan kita tahu ia adalah penguasa wilayah yang sangat luas.

Ia memang sederhana karena takutnya pada Tuhan yang ia yakini.
Namun suatu kali, datanglah seorang hamba sahaya datang ke rumah Umar dengan pakaian lengkap berupa gamis, serban dan kafiyeh (tutup kepala).
Umar yang kala itu hanya berpakaian biasa, segera bergegas ke dalam rumah, dan beliaupun memakai serban dan tutup kepala.

Bagi Umar, berpakaian adalah penghormatan. Jika yang akan menemui berpakaian lengkap, maka Umar berpendapat ia pun harus mengimbangi, sebagai wujud hormat

Dik Nadiem yang saya sayangi,
Tak ada yang terlalu keliru dengan pakaianmu, hanya kurang tepat saja. Yang menunggumu, telah siap dengan pakaian terbaik yang bisa dikenakan, maka akan baik jika dirimu pun mengimbanginya.

Berita Terkait

Kurangilah ego-mu, selalu ada adab yang harus dirimu fahami, termasuk adab di Altar Akademik.

Di Altar Akademik, betapapun dirimu akan merubahnya, ada tradisi yang terpelihara, yang sudah ada sejak sebelum engkau dilahirkan, satu di antaranya adalah berpakaian terbaik bahkan terindah saat mengikuti prosesi di Altar Akademik.

Tradisi berpakaian itu, Bapakmu mengikuti, atasanmu mengikuti dan banyak orang cerdik pandai lain pun mengikuti. Mengikutinya bukan berarti tak berkemajuan, melainkan memahami adab dan tradisi yang syahdu.

Dik Nadiem, pendidikan itu bukan seperti gojek atau aplikasi lainnya, yang orang bisa bertransaksi tanpa sentuhan fisik, atau tak peduli siapa yang ada di belakangnya.

Dik Nadiem,
saya percaya dirimu punya hasrat dan gairah yang besar memperbaiki sistem pendidikan di negeri ini.
Aku doakan untuk itu.
Aku titip saja, sebelum kita bicara hal instrumental pendidikan, ada baiknya dirimu dalami hal yang substansial. Aku titip jangan buat pendidikan menjadi mesin materialisme, sebab biar bagaimana pun kakekmu dan pendiri bangsa ini membangun pendidikan ; lebih dari sekedar bagaimana bekerja setelah lulus, tetapi bagaimana menjadi manusia yang berkemanusiaan yang ,adil dan beradab setelah menyelesaikan pendidikannya.

Selamat berjuang Dik!

Salam
Kakakmu, yang mungkin juga bawahanmu.

Oleh Yudha Heryawan Asnawi
Seorang dosen

Facebook Comments

Komentar

  • posisi Pa menteri berbeda dg saya. Pa menteri mungkin punya visi yg dimanifestasikan dg cara berpakaian, saya tdk tahu menahu soal itu. jika di hari wisuda, saya pakai pakaian resmi, jas, dasi, tdk lebih karena itu hari penting buat mahasiswa2 saya dan orang tua mereka. Orang tua yg membesarkan mereka, membiayai sekuat tenaga jiwa dan raga. Tdk jauh berbeda saat saya nanti insya Allah menikahkan putra putri saya di masa mendatang

    • Jika hanya karena pakaiannya anda merasa terhinakan maafkan lah dia..mungkin bukan maksudnya tuk merendahkan anda ???

  • menurutku saya siy tidak masalah. so far, konten pidatonya bagus, fresh.
    tiap pemimpin punya gayanya sendiri2.

  • Pancasila itulah yg belum mampu dimaknai oleh generasi setelah 70 an dimana Buya Hamka sendiri utk datang ke acara resmi juga mengikuti standar resmi berpakaian dengan setelan jas dan dasi lengkap dg peci hitam walaupun beliau Ulama.
    Ada budaya Indonesia yg ditanamkan oleh Guru bagaimana cara” berpakaian itu masuk dlm kurikulum mata pelajaran.
    Bagaimana seorang Menteri ngikut pemimpinnya
    Berpakaian seenaknya tanpa aturan. Menterinya juga.
    Kapan ini akan berubah jadi lebih baik. Menangis para Ibu Guru yg telah mendahului di alamnya

  • adab mana yang dilanggar? pakaiannya masih sopan, tidak membuka aurat, tidak pula satupun kata-katanya merendahkan. kenapa selalu mengkritik hal kecil? pakaian compang-camping pun bisa lebih kaya dari ada, bisa lebih berilmu dari anda.

  • Kemasan. Yah terkadang kemasan menjadi sangat penting buat banyak orang. Karena kemasan yg bagus bisa menyembunyikan yg buruk.

  • “Kurangilah ego-mu, selalu ada adab yang harus dirimu fahami, termasuk adab di Altar Akademik.”

    ini maksudnya seperti persembahan pak? institusi sakral? tolong open your mind pak dosen. sudah bukan jamannya lagi mengkultuskan sesuatu. merasa institusinya spesial dan sakral. tantangan yang kita hadapi sekarang adalah globalisasi dan keterbukaan.

  • Nasihat yang bijak.
    .jgn mengubah tatanan yg sdh baik hanya krn ingin menunjukkan kesederhanaan. Sederhana itu jg butuh kepantasan..

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: