Muhammadiyah Tolak Radikalisme Diajarkan di PAUD

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir (dok cnni)

banner 800x800

banner 400x400

Jakarta, hajinews.id,- Muhammadiyah berbeda pendapat dengan pandangan wakil Presiden Maruf Amin yang mengatakan soal radikalisme perlu diajarkan mulai dari Pendidikan Anak usia Dini alias PAUD,

Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, pemerintah tidak perlu membuat kesimpulan umum jika menemukan satu kasus radikalisme diajarkan di lembaga pendidikan. Sebab hal itu akan merendahkan peran mulia lembaga pendidikan.

Bacaan Lainnya

“PAUD dan lembaga-lembaga pendidikan itu sangat mulia tugasnya. Bahkan banyak guru-guru PAUD itu kerelawanan sampai ke pelosok. Kami Aisyiah punya 20 ribu lebih PAUD, itu justru punya kekuatan menjadi pilar mencerdaskan bangsa dan mendidik karakter generasi,” kata Haedar saat ditemui di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (4/12) malam.

Haedar menilai pemerintah kurang seksama dalam membaca fenomena radikalisme. Dia menyarankan pemerintah perlu bertemu organisasi masyarakat keagamaan guna menambah perspektif dalam menyikapi radikalisme.

Ia juga mengusulkan pemerintah mendefinisikan ulang radikalisme. Sebab selama ini pemerintah lebih banyak membuat pernyataan kontroversial yang berpotensi mengganggu kerukunan di Indonesia.

“Agar kita mendefinisikan ulang apa yang kita sebut terpapar radikalisme, kemudian juga sasarannya, objeknya agar kita tidak saling tuding dan saling bantah yang akhirnya kita menjadi kontraproduktif” ucap Haedar.

Sebelumnya Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan Kementerian Agama bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menelusuri dugaan radikalisme diajarkan di PAUD. Hal itu ia sampaikan saat Desa Tangkilsari, Kabupaten Malang, Rabu (27/11).

Pernyataan itu bukan kali pertama Ma’ruf menyebut ada dugaan pengajaran radikalisme di lembaga pendidikan. Sebelumnya, Ma’ruf juga menyampaikan perlu pengajaran pada anak sejak PAUD hingga tingkat SD untuk melawan radikalisme.

“Kita ingin libatkan secara keseluruhan, terorganisasi, tersinergi, komprehensif, sehingga perkembangan radikalisme (dapat dicegah) dari hulu sampai ke hilir. Mulai pendidikan, bukan hanya SD, dari PAUD juga mulai ada gejala, dari TK tokoh-tokoh radikal itu sudah dikenalkan,” ujar Ma’ruf di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (15/11). (fur/cnni).


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.