Renungan Siang: Tanah Kehidupan


banner 800x800

banner 400x400

Oleh Zuhdi Zaini

Aku bagai tanah curam yang tidak dapat menerima air suci dari langit.

Bacaan Lainnya

Aku tahu, air itu turun dari langit membasahi bumi, tetapi egoku tidak menerimanya, dia hanya lewat tanpa bekas di hatiku.

Aku bagai tanah lengkung yang menjadi genangan air. Air suci dari langit hanya aku kumpulkan namun tidak bermanfaat bagiku dan orang lain.

Aku hanyalah kolektor data kebaikan, kebenaran dan keadilan, tetapi aku tidak pernah melakukannya.

Aku hanya mampu mendefinisikan kebaikan, kebenaran dan keadilan tetapi aku tidak sanggup mengamalkannya.

Aku bagai tanah datar yang menyerap semua air yang turun dari langit. Aku menikmatinya hingga membuat tubuhku segar dan sehat.

Tanah yang disirami air hujan, menghidupkan berjuta-juta tumbuhan dan bunga yang berwarna warni. Aku membuat bumi hijau bagai permadani.

Islam hijau yang menyejukkan, mendamaikan dan mensejahterakan. Islam esensi bukan islam formalisasi.

Islam itu menebar kasih kepada sesama, bukan membangun kebencian atas dasar agama.

Menutup diri dari keterbukaan hati, akal dan pikiran itulah kafir sejati. Hati itu bagai tanah yang tidak dapat menyerap air sama sekali.

Mengoleksi dan mendefinisikan sebuah kebaikan tanpa berbuat baik, itulah kemunafikan. Hati itu bagai tanah yang menyimpan air tanpa memberi manfaat bagi dirinya dan orang lain.

Meneriakkan keadilan dan kebenaran hanyalah retorika para oportunis dan kaum sofis yang mencari keuntungan dunia yang sedikit.

Mengosongkan diri dari perbuatan keji, mengisi dengan akhlak dan budi pekerti serta teraktualisasi dalam jati diri itulah tanah sejati. Menerima air dan memberi kehidupan kepada anak negeri.

Selamat pagi dan berkah selalu

Jakarta, 5 Desember 2019

M Zuhdi Zaini


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.