Belajar dari Tokoh Jembatan Ummat

Asep U6sman Ismail

banner 800x800

banner 400x400

Oleh
Asep Usman Ismail

Terus terang saya tidak pernah bermuawajahah atau bertemu langsung dengan al mukaram KH Achmad Sjaichu, namun sejak mahasiswa pada dasawarsa 80-an mengikuti kiprah beliau sebgai pemimpin ummat.
Dapat pula ditambahkan bahwa saya ketika mengikuti kuliah perkembangan Islam kontemporer di Indonesia, baik di Fakultas Adab maupun di Pascasarjana menelaah literatur tentang kiprah dan perjuangan KH Achmad Sjaichu.
Dengan kerendahan hati serta sepirit tabaruk dan tafa’ul atas ketokohan beliau izinkan penulis memberikan talkhis atau catatan singkat tentang perjuangan kiprah beliau tentang umat dan keumatan dalam membangun sendi sendi negara bangsa (nation state) sebgai berikut:
Pertma, beliau berangkat dari tradisi pesantren yang kokoh, kuat dan fundamental. Kedua, dengan berpijak pada tradisi beliau melangkah mantap menembus batas batas budaya pesantren. Melakukan otodidak mendalami ideologi, politik, budaya dan bahasa asing di luar bahasa Arab. Hasilnya beliau bukan sekedar anggota partai dan anggota DPR, tetapi jadi pemikir dan negarawan. Tidak aneh kalau belia mendapat kepercayaan jadi pimpinan fraksi dan pimpinan DPR.
Ketiga, dengan modal kepakaran dalam kajian khazanah intelektual Islam atau lebih tepatnya kajian kitab kuning, beliau menemukan essensi Islam dalam persaudaraan berdasarkan keimanan. Hasilnya beliau cukup nyaman berada dalam satu perahu dengan orang-orang Masyumi yang terkenal rasional dan tergolong Islam modernis. Beliau bukan sekedar nyaman, tetapi bisa mengimbangi dengan narasi yang sama, rasional dan modernis. Ketika beliau berada dalam perahu Masyumi tidak ada perbedaan berarti antara beliau dengan tokoh tokoh Masyumi yang berpendidikan Barat.
Dengan demikian beliau berhasil membangun jembatan yang menghubungkan ummat, terutama antara kalangan santri dan pesantren dengan kalangan Muslim modernis.
KH Achmad Sjaichu benar benar telah menjadikan dirinya jembatan yang menghubungkan dan menyatukan berbagai komponen ummat. Beliau pemimpin pemersatu ummat.
Tentu bukan tanpa resiko, namun beliau siap menerima resiko tersebut demi ummat. Dalam salah satu Mu’tamar PBNU kalau tidak salah pada tahun 1979 beliau menjadi salah seorang kandidat kuat untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU. Beliau berhadapan dengan calon petahana KH Idham Chalid. Dalam sesi pertanggung jawaban pengurus, beliau sebagai salah seorang ketua menjawab semua evaluasi peserta Mu,tamar dengan jawaban meyakinkan, rasional dan terstruktur sistematis mengikuti pola dan budaya organisasi modern. Sebut saja gaya konggres Masyumi atau HMI. Rupanya model jawaban KH Ahmad Sjaichu yang rasional tersebut kurang berkenan di hati para ulama sepuh. Mereka lebih senang menyimak cara KH Idham Chalid merespon evaluasi para mu’tamirin dengan gaya sufistik. Mengakui kekurangan dengan mohon maaf dan mohon doa untuk perbaikan.
Jawaban ini mengubah keadaan dengan sekejap mata. Sebagian besar peserta mu’tamar beralih memberikan dukungan kepada Kyai Idham Chalid meskipun beliau sudah menjabat Ketua Umum PBNU sejak 1957.
Terlepas dari dinamika yang mengitari perjalanan hidup beliau, satu hal yang kokoh pada diri beliau adalah beliau telah membangun jembatan untuk persatuan dan kesatuan ummat. Beliau pemimin yang bisa diterima semua pihak. Beliau benar benar guru yang bisa ditiru dan ulama yang menginpirasi. Layak digugu dan ditiru. Sosok beliau amat sangat dibutuhkan pada zaman ini. Wa Allah a’lam bi al shawwab


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.