Mentan Genjot Produksi Pangan di 10 Provinsi

Syahrul Yasin Limpo. (Dok)




JAKARTA, hajinews.id – Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyatakan akan fokus meningkatkan produksi pangan di tujuh sampai 10 provinsi. Langkah tersebut diambil menyusul penandatanganan kesepakatan kerja sama dalam infrastruktur pertanian antara Kementan dengan Kementerian Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Sisanya kita arahkan sebagai penyangga produk pertanian lainnya yang bisa kita orientasikan ke pasar internasional karena China pun menggemari buah-buahan dan bunga tropis kita,” kata Syahrul di Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Dengan melakukan kerja sama tersebut, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengakui harus mempererat hubungan dengan Kementan. Dia mengatakan, sebagian besar urusan pertanian berkaitan dengan air.

Basuki mengajak Kementan lebih banyak terlibat aktif di International Commission on Irrigation and Drainage sebagai wadah pengembangan dan pengelolaan sumber daya air berbasis teknologi serta pembangunan dan perbaikan infrastruktur irigasi dan drainase. “Karena Indonesia adalah salah satu pendiri wadah tersebut,” ujar Basuki.

Keduanya mengharapkan dengan tujuan meningkatkan produksi pangan, kerja sama tersebut dapat menghadirkan kesejahteraan kepada rakyat Indonesia, khususnya petani.

Sehari sebelumnya, dalam rapat koordinasi Peningkatan Investasi dan Ekspor Tanaman Pangan di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Syahrul menekankan pentingnya kemandirian dan kemajuan sektor tanaman pangan.

“Di dalam kepala kita, harus tertanam kata-kata mandiri dan maju. Kita tidak mungkin lagi memulai sesuatu nggunakan cara-cara lama. Jika perlu kita meniru cara-cara Negara lain yang sudah berhasil,” kata Syahrul.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi melaporkan bahwa ekspor sektor tanaman pangan tahun 2019 mencapai 200 ribu ton, senilai Rp 2 triliun. Kacang hijau yang masa tanamnya singkat, sekitar 2 bulan, adalah salah satu komoditas tanaman pangan yang menjadi favorit untuk diekspor. Jumlahnya mencapai 33 ribu ton. “Selain itu ada Porang, jumlahnya mencapai 11 ribu ton,” ungkap Suwandi.

Potensi ekspor dari sektor tanaman pangan masih terbuka dan memiliki ceruk pasar yang besar. Lebih lanjut, Suwandi menjelaskan bahwa dengan inovasi dan teknologi bioindustri setidaknya ada 34 jenis produk padi, 41 jenis produk jagung, dan 28 jenis produk ubi kayu yang bisa dikembangkan dan menjanjikan di pasar internasional. (rah/republika)

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.