Ketika Ikan Berada di Kolam Air

Asep UI

banner 800x800

banner 400x400

Oleh
Prof. Asep Usman Ismail

Ikan hanya bisa hidup di dalam air. Jadi air tawar adalah kebutuhan bagi ikan untuk kelangsungan hidupnya. Kita ibarat ikan. Masjid bagaikan kolam air. Orang beriman, menurut Al Quran, amat sangat membutuhkan Masjid. Mereka bagaikan ikan yang membutuhkan air tawar untuk kelangsungan hidupnya. Air tawar itu berada di kolam air, sungai atau danau. Ketika mereka datang ke Masjid. Lalu ruku’ dan sujud berjamaah kepada Rabb-nya, maka mereka telah berada pada air keruhanian. Fikiran, perasaan dan ruhani mereka terhubung dengan Rabb di tempat sujud (Masjid) yang merupakan rumah Allah.
Jika momentum ini dimanfaatkan oleh orang-orang beriman untuk menyucikan dirinya dengan dzikir dan doa, maka akan menguatkan kecerdasan intelek, emosi dan spiritual mereka. Fikiran jadi bening. Qalbu jadi bersih. Jiwa jadi muthmainnah. Manusia seperti ini akan memilki energi ruhani untuk kembali datang ke Masjid. Masjid punya daya pesona bagi mereka. Sujud berjamaah jadi kebutuhan. Hati mereka terpaut dengan Masjid. Berada di Masjid dengan shalat, dzikir, baca Al Quran dan belajar agama jadi PLN (puas, lezat dan nikmat). Dengan sesama jamaah akan ada ikatan ruhani lebih kuat. Menyimak kajian Al Quran jadi kecanduan.
Kondisi ini jadi landasan spiritual fundamental untuk membicarakan dan melakukan mananemen Masjid.
Kita mulai dari nol. Lalu kita hijrah dengan nyemplung ke Masjid. Sujud berjamaah kepada Allah. Dari sini baru membicarakan kegiatan, manajemen dan kelembagaan Masjid untuk menghidupkan Masjid. Ubah dulu mindset kita tentang Masjid dan kebutuhan shalat berjamaah awal waktu di Masjid; baru bicara kelembagaan Masjid. Selamat hijrah dan mengubah. Kembalikan ikan-ikan ini ke kolam ikan.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.