Penyebab Selip Lidah Penceramah

Gus Muwafiq
banner 800x800 banner 678x960

Oleh : Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pengasuh Rumah Tahfidh Darun Nashihah MONASH INSTITUTE Semarang, dan redaktur Ahli hajinews.id

Pengantar hajinews: Belum lama ini media sosial ribut soal ceramah Gus Muwafiq yang dianggap  keliru atau dianggap keliru karena menyebut kakek Nabi Muhammad tidak bisa mengurus cucunya saat lahir. Berikut pandangan Dr. Muhamamd Nasih dari sisi komunikasi visual.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Bukan sekali dua kali terjadi kontroversi disebabkan oleh penceramah agama. Bukan saja terjadi di kalangan ustadz seleb yang dianggap tidak memiliki pemahaman agama yang mendalam, tetapi juga dialami oleh penceramah yang dianggap telah mendalami agama di pesantren dan di lembaga pendidikan Islam yang terkenal. Juga berasal dari keluarga dan lingkungan yang kental dengan pendidikan Islam. Bahkan dipanggil dengan panggilan khas sebagai orang yang dianggap mendalam dalam pengetahuan agama Islam.

Di era digitalisasi, proses merekam berbagai kejadian menjadi tidak hanya semakin instan, tetapi juga semakin mudah dan murah. Hampir semua orang yang memiliki perangkat teknologi komunikasi yang agak canggih, bisa melakukannya. Sebab, di dalamnya terdapat fasilitas untuk merekam, baik audio maupun audio visual.

Kemudahan tersebut dimanfaatkan juga dalam bidang dakwah Islam. Banyak da’i yang sebelumnya tidak dikenal karena jauh dari akses televisi, mendadak menjadi sangat populer, karena ceramah-ceramahnya viral di kalangan netizen. Bahkan itu bisa terjadi pada mereka yang sebelumnya melakukan ceramah di pelosok atau pedalaman. Sebab, walaupun ceramahnya tidak disengaja olehnya untuk disebarkan, tetapi bisa saja ada penyukanya yang menyebarkannya dan kemudian menjadi viral.

Popularitas di medsos itu pada akhirnya membuat stasiun televisi yang pada umumnya mengejar rating tinggi, juga mengejar penceramah yang sudah viral di medsos. Tujuannya sesungguhnya lebih karena ingin mendapatkan efek domino dari popularitas penceramah di lini medsos. Sang penceramah menjadi semakin populer. Sebab, sudah dikenal luas di kalangan yang melek medsos, lalu ditonton pula oleh para pemirsa televisi yang tetap bertahan menonton televisi karena tidak akrab dengan gadget karena berbagai faktor.

Masyarakat di Indonesia bukanlah masyarakat yang menyukai hal-hal yang ditampilkan secara serius. Bahkan media sosial yang awalnya seolah diakses oleh kalangan terpelajar pun, berdasarkan hasil riset, ternyata lebih banyak digunakan untuk mengakses konten-konten hiburan. Bahkan hiburan yang tidak memiliki pesan edukasi sama sekali menempati posisi tertinggi yang disukai.

Dalam konteks dakwah Islam, isi ceramah juga bukan satu-satunya penyebab penceramah disukai oleh khalayak. Jika karena isinya, sesungguhnya banyak ulama’ yang memiliki kedalaman ilmu dengan karya dan juga amal atau aksi yang nyata. Namun, lebih banyak mereka yang justru tidak dikenal luas. Hanya beberapa saja pencermah yang viral di medsos karena memang memiliki daya tarik tambahan dan sekaligus khas di luar aspek kontek ceramah yang disampaikan.

Di samping itu, memang banyak juga ulama’ yang ingin menjaga keikhlasan memilih untuk khumul (ketidaknampakan). Salah satu yang mereka pegang untuk menjauhi popularitas adalah pesan Ibnu Atha’illah: “Kuburlah dirimu dalam bumi ketidaknampakan (khumul). Sebab, sesuatu yang tumbuh dari benih yang tak ditanam di balik ketidaknampakan, tak akan sempurna buahnya”.

Penceramah yang paling menarik perhatian pengguna medsos dan juga televisi adalah yang memiliki kemampuan dalam sisi menghibur, apalagi bisa sampai mengocok perut. Jangankan di kalangan awam, kalangan yang memiliki tingkat pendidikan tinggi pun lebih menyukai tuntunan yang dikemas sebagai tontonan; walaupun karena itu, substansi tuntunannya menjadi sangat minim.

Ditambah lagi, pembicaraan menjadi sangat tidak fokus dan bahkan pesannya menjadi kabur, karena harus membicarakan berbagai hal yang sesungguhnya tidak berhubungan sama sekali, untuk mengusir kebosanan audiens. Sebab, oleh audiens, tuntunan yang disampaikan apa adanya akan dirasakan sebagai sesuatu yang monoton.

Dan itu menjadi sumber utama rasa bosan, lalu menjadi mengantuk dan kehilangan perhatian. Hanya orang-orang yang memiliki pengalaman berceramah di depan audiens yang bisa memahami dengan baik, bahwa perhatian dan sikap antusias audiens kepada ceramah penceramah menjadi sumber energi dan penyemangat tersendiri. Dengan itu, seorang penceramah seolah mendapatkan doping yang masuk ke dalam dirinya tanpa proses dimakan atau diminum. Itu adalah faktor psikologis.

Sisi hiburan itulah yang membuat audiens bisa memiliki konsentrasi untuk fokus kepada penceramah. Dan karena fokus itulah, penceramah yang masih bisa mengontrol dirinya, memiliki kesempatan untuk memasukkan substansi pesan. Namun, kadangkala, karena masuk terlalu jauh kepada sisi hiburan, untuk menarik rasa senang audiens, misalnya untuk memancing tawa, penceramah menjadi lupa, sehingga mengucapkan kata atau kalimat yang tidak seharusnya. Jika berkaitan dengan doktrin dasar Islam, bisa menyulut reaksi negatif banyak orang. Dan jika doktrin tersebut sangat mendasar, reaksi yang muncul bisa keras dan masif.

Selain karena berkaitan dengan doktrin dasar, reaksi juga bisa muncul jika pernyataan penceramah menyinggung kelompok atau organisasi besar. Atau juga menyinggung pribadi tertentu yang memiliki banyak fans. Walaupun sesungguhnya sebuah pernyataan dimaksudkan hanya untuk sekedar joke atau guyonan saja, tetapi oleh kalangan tertentu bisa dianggap sebagai pelecehan.

Karena itulah, sudah saatnya, para penceramah menyadari dua hal:

Pertama, era digitalisasi memungkinkan materi dakwah disebarkan ke segala penjuru dan lintas kelompok. Karena itu, para penceramah harus memiliki kecerdasan tinggi untuk membuat pernyataan-pernyataan yang tidak memancing ketersinggungan kelompok lain. Pembicaraan yang bersifat khilafiyah harus dikurangi dan lebih baik lagi diakhiri. Jika pun terpaksa harus melakukannya, para penceramah, saat berceramah, harus selalu membayangkan bahwa ia sedang berbicara di depan khalayak dari seluruh kelompok ummat, bahkan walaupun dia sendiri yakin bahwa yang berada di depannya adalah kelompok sendiri.

Kedua, para penceramah harus mulai mendorong tingkat literasi ummat, dan mereka bisa mulai menyukai penyampaian tuntutan yang lebih fokus dan serius. Dengan itu jufa, ummat tidak terlalu lagi tergantung kepada penceramah untuk mengakses ajaran Islam. Memang inu menuntut kesiapan diri penceramah untuk menghadapi realitas bahwa audiens akan memiliki sumber rujukan yang banyak yang berkonsekuensi kepada berkurangnya fanatisme kepada kelompok atau figur tertentu yang mungkin adalah dirinya sendiri.

Dengan kedua jalan itu, peningkatan kualitas ummat bisa dipacu. Harapan tentang ummat yang tidak hanya menjadi buih, melainkan bisa berubah menjadi barisan yang kokoh, akan lebih bisa diwujudkan. Penceramah bisa menyampaikan ajaran dengan lebih fokus, tidak lagi dibebani tuntutan bisa melucu yang secara faktual menyebabkan sering selip lidah. Wallahu a’lam bi al-shawab.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *