Dari Mujadalah Menuju Muhasabah dan Mujahadah

Asep Usman Ismail




Oleh Asep Usman Ismail
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Manusia makhlak yang cerdas. Allah telah membekali manusia dengan akal. Dengan akal manusia berfikir; mengamati dan menelti alam dan kehidupan. Rasa ingin tahu manusia demikian tinggi. Jika potensi berfikir ini dididik sedemikian rupa; dilatih dan dikembangkan melalui sistem pembelajaran yang kondusif, maka hasilnya muncul para pemikir rasional, cermat, teliti dan tertib dalam berfikir. Manusia seperti ini akan memiliki kemampuan dan keahlian dalam berdebat atau bermujadalah.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Jika manusia seperti ini hadir dalam rapat dia akan menguasai forum. Sementara itu, Al Quran menawarkan konsep Ulul Albab yaitu manusia yang memiliki tiga kecerdasan yang terpadu. Kecerdasan intelek ( al quwwah al ‘aqliyah), kecerdasan emosi (al quwwah al dzawqiyah) dan kecerdasan spiritual (al quwwah al ruhiyah).

Pendidikan sekuler hanya menekankan kecerdasan intelek. Hasilnya jadi manusia jago mujadalah (berdebat). Jika tidak diimbangi dengan kecerdasan emosi dan spiritual yang berbasis pada qalbu, maka kemampuan debat itu akan digunakan untuk mencari pembenaran bukan kebenaran. Menutupi ego, egoistik dan egoisme serta subyektifitas; bukan obyektifitas yang menguatkan kejujuran dan ketulusan.

Kini saatnya menguatkan abad baru, abad kerendahan hati. Mari kita berhijrah dari budaya debat (mujadalah) melulu dalam berbagai kesempatan menuju budaya muhasabah (introspeksi diri). Budaya muhasabah hanya akan terwujud apa daya nalar yang tajam dipadukan dengan kepekaan emosi, daya sensitifitas dan kesadaran. Hasilnya ketajaman berfikir itu ibarat pisau yang lebih dahulu diarahkan untuk memotret keadaan dirinya.

Kritik, saran dan nasihat itu akan bermanfaat untuk pengembangan diri jadi pribadi mulya. Ia jadi pribadi terbuka; sekaligus pribadi pembelajar. Ia memiliki cukup energi untuk hijrah. Tidak malu untuk bertanya soal agama. Tidak malu pula untuk datang ke Masjid. Tidak malu pula untuk jadi jamaah baru.

Kemampuan muhasabah harus segera dipadukan dengan mujahadah, yaitu berjihad melawan ego, egoistik dan egoisme. Berjihad melawan malas. Berjihad melawan rasa malu. Ini bisa dikalahkan karena sudah tumbuh kesadaran ruhani tentang hidup setelah mati. Kesadaran tentang umur yang mustahil abadi. Tak mengalami kematian. Jadi saatnya kita berhijrah dari budaya mujadalah kepada budaya mujahadah dengan mengaktifkan budaya muhasabah.

Ciputat 3 Desember 2019

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.