Renungan Malam (Bag. 1) Mengapa Tidak Ambil Tawaran Rasulullah SAW Pahala yang Berlimpah?





Dr. Masrifan Djamil

Oleh Dr. Masrifan Djamil

( Doktor ilmu kedokteran, dokter, da’i, pemerhati masalah keumatan, Pengurus IPHI, tinggal di Semarang)

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Hajinews.- Alhamdulillah, masjid-masjid kita sekarang semakin modern dan diperbaiki terus untuk melayani jamaah. Banyak yang memasang AC, bersih, memberi minum gratis, bahkan membagi makan siang bakda shalat Jum’at, namun mengapa muslimin tidak semangat (ngotot, eager) shalat jamaah di masjid? Banyak sekali diantara kita merasa sudah beres shalat di rumah atau di kantor dll sendirian. Diantara kita ada yang masih kerja di malam hari, setelah kerja seharian, jadi pasti bukan wajib jika sudah kecukupan. Jadwalnya dirancang sendiri sebagai tambahan kerja paginya,  sehingga ia tak bisa shalat jamaah di masjid maghrib dan isya’.

Bahkan lima waktu shalatnya tidak dikerjakan di masjid, dan sudah merasa beres atau merasa tidak apa-apa. Mereka berdalih “kan sedang kerja” atau “menolong orang”.  

Mungkin pula karena meyakini hukum shalat berjamaah itu sunnah muakkad saja, bukan wajib. Sunnah jika tidak dikerjakan tidak mengapa, tidak berdosa. Atau mungkin karena belum tahu betapa berlimpah pahala shalat jamaah di masjid. Padahal usia sudah di atas 40 tahun alias umur diangkatnya Muhammad ﷺ sebagai Nabi dan Rasulullah, alias sudah amat terbatas waktunya untuk beribadah. Mengapa? Karena umur 40an seseorang akan semakin disibukkan dengan urusan keluarga, pekerjaan, jabatan dll. Apalagi kalau ditambah menderita penyakit yang perlu berobat dan kontrol ke RS atau dokter  praktek.

Beribadah kepada Allah memang harus ikhlas, semata-mata karena Allah ﷻ. Namun sekaligus berharap pahala tidak bertentangan dengan tujuan lillahi ta’ala dan ada sunnahnya. Allah sendiri yang menyediakan pahala, disampaikan sendiri oleh Rasul-Nya ﷺ, kita ditawari. Maka amatlah rugi jika kita tidak mengambil tawaran itu. Sunnah tentang pahala proses shalat berjamaah di masjid bisa disimak di bawah ini, kita batasi hanya hadits sahih dan hasan, karena derajat ini disepakati para ulama sebagai landasan suatu ibadah dan penetapan hukum syar’i.

Kalau diurutkan, amaliyah kita dari rumah untuk shalat berjamaah di masjid,  diberikan tawaran pahala berlimpah luar biasa. Maka marilah kita ambil saja pahala-pahala itu, karena kita juga tidak mengetahui apakah pahala yang kita peroleh sudah banyak, melebihi timbangan dosa kita. Dari wudlu sempurna di rumah dan doa bakda wudlu, pahalanya diampuni dosanya dan disilakan masuk surga dari salah satu 8 pintu (HR At-Tirmidzi, hadits sahih). Menjawab seruan adzan pahalanya pengampunan dosa (HR Ahmad dan  Muslim, hadits sahih), dan mengantarkan penjawab adzan ke surga (HR Muslim).

Berikutnya berdoa setelah adzan, pahalanya berhak atas syafaat Nabi kita (HR Muslim). Melangkah ke masjid untuk shalat berjamaa, mendapatkan jaminan dari Allah, Dia mewafatkannya, lalu memasukkannya ke dalam surga atau mengembalikannya ke rumah dengan membawa pahala dan keberuntungan.” (HR. Abu Dawud, di-shahih-kan oleh Syaikh Albani). Berjalan menuju masjid untuk shalat berjamaah, pahalanya seperti pahala orang yang berihram untuk melaksanakan haji (HR Abu Dawud, hadits hasan), dicatat baginya sebanyak sepuluh kebaikan untuk setiap langkahnya ke masjid, langkah yang satu diampuni dosanya, langkah yang lainnya dinaikkan derajatnya (HR Ahmad dan Muslim, hadits sahih), mendapat an-nuzul (jaminan dari surga, HR Bukhari dan Muslim/muttafaq alaih), mendapat cahaya yang amat terang di hari kiamat karena dia menuju masjid waktu gelap/subuh (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Jika dibandingkan dengan perolehan uang bila kita bekerja malam hari yang bukan wajib (kerja tambahan, side job) tentu tak sebanding dengan perolehan pahala karena shalat berjamaah di masjid. Ini baru langkah-langkah dari rumah menuju ke masjid, belum shalatnya sendiri. Sungguh sayang jika kita tak mengambilnya.

(Masrifan Djamil

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.