Prof Dr Bahtiar Effendy: Pendidikan, Karier dan Belasan Karya Buku

Prof Dr Bahtiar Effendy. (Foto: Istimewa)
banner 800x800 banner 678x960

Jakarta, hajinews — Indonesia, umat Islam dan khususnya Keluarga Besar Ormas Islam Muhammadiyah berduka, Kamis (21/11/2019). Salah satu Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Bahtiar Effendy, meninggal dunia di ICU RSIJ Cempaka Putih, Kamis (21/11/2019), pada dini hari tadi sekitar pukul 00.00 WIB. Mendung duka masih terasa hingga kini.

Kabar duka kepergian Bahtiar Effendy diumumkan Muhammadiyah lewat akun twitter @muhammadiyah. “Innalillahi wainnailaihi rajiun. Turut berduka cita atas berpulangnya Ketua Pimpinan Pusat #Muhammadiyah, Prof. Dr. Bahtiar Effendy, 21 November 2019 di RSIJ Cempaka Putih, pukul 00.00 WIB,” tulis @muhammadiyah.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Tokoh Muhammadiyah yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005-2010, Din Syamsuddin, dalam pesan singkat yang bertebaran via Grup WhatsApp, juga menyebarkan informasi wafatnya Bahtiar Effendy. “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Saudara, sahabat, guru kira Prof. Dr. Bahtiar Effendy (Ketua PP Muhammadiyah) telah berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 00.00 (dini hari, 21 November 2019),” ucap Din, yang kemudian dikutip sejumlah media nasional.

Dalam keterangan itu juga, Din Syamsudin mengajak masyarakat untuk turut mendoakan agar almarhum “husnul khatimah.” “Mohon doa semoga Allah SWT melimpahkan ‘husnul khatimah’ atas almarhum, maghfirah, rahmah dan jannahNya,” kata dia. Din Syamsudin menyebutkan informasi itu diperoleh pada 21 November 2019 pukul 00.05 dari putri Bahtiar Effendy, Atia Ajani. Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Din Syamsuddin turut mengucapkan duka cita yang mendalam kepada keluarga.

Biografi Bahtiar Effendy

Bahtiar Effendy lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, 10 Desember 1958.

Sekolah di Pesantren

Bahtiar menamatkan pendidikan dasar di daerahnya, Ambarawa. Kemudian melanjutkan pendidikan menengah di Pondok Pesantren Pabelan, Magelang. Dalam sebuah wawancara dengan Kompas.com, Ahad (6/7/2008), Bahtiar Effendy mengaku beruntung karena sempat mengecap pendidikan di sebuah pesantren, kampus IAIN dan kemudian melanjutkan pendidikan perguruan tinggi (PT) di Amerika Serikat. Menurut dia, apa yang dia peroleh dari pesantren dan universitas tidak bertentangan. “Justru saling melengkapi,” katanya, kala itu.

Bahtiar remaja belajar di Pesantren Pabelan, Muntilan, Jawa Tengah. Di pesantren itu, dia menyerap literatur pemikiran Islam klasik dan toleransi. Bahtiar pun menyayangkan adanya persepsi yang keliru soal pesantren. Pesantren sering kali dianggap tradisional, kolot, dan radikal. “Itu tidak betul,” katanya.

Menurutnya, Pesantren Pabelan adalah pesantren yang sangat terbuka. Pasalnya, pesantren ini didatangi banyak tamu, termasuk tamu dari kalangan Barat. Sehingga, Pesantren Pabelan tidak fobia terhadap dunia Barat. Justru tamu dari Barat dimanfaatkan santri untuk memperlancar Bahasa Inggris.

“Saya heran mengapa pesantren dituduh menimbulkan radikalisme. Dengan sistem pesantren yang terbuka, tidak mungkin radikalisme muncul. Radikalisme pasti muncul di tempat lain di luar Indonesia,” kata Bahtiar.

Kuliah di Amerika Serikat

Mengutip dari situs resmi PPIM UIN Jakarta, ppim.uinjkt.ac.id, Bahtiar Effendy sempat mengenyam pendidikan di beberapa perguruan tinggi di luar negeri. Awalnya, Bahtiar pernah menempuh pendidikan tingkat menengah di Columbia, negara bagian Montana dan menamatkan pendidikan di Pesantren Pabelan di Jawa Tengah. Kemudian, ia melanjutkan studi pendidikan tinggi di di Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Perbandingan Agama pada tahun 1986.

Tidak berhenti di jenjang pendidikan sarjana, Bahtiar meneruskan pendidikannya dan berhasil memperoleh dua gelar tingkat Master untuk Kajian Asia Tenggara di Ohio University di Athena pada 1988 dan Ilmu Politik dari Ohiro State University di Columbia pada tahun 1991. Tiga tahun kemudian, dirinya menerima gelar Doktor untuk program studi Ilmu Politik di Ohio State University di Columbia.

Kemudian menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakata tahun 1986. Bahtiar memperoleh gelar magister bidang studi Asia Tenggara dari Ohio University, Athens, Amerika Serikat tahun 1988.

Selang empat tahun kemudian pada 1991 Bahtiar mendapat gelar Master Ilmu Politik dan pada 1994 menyelesaikan program doktoralnya dalam Ilmu Politik di Ohio State University, Colombus, Amerika Serikat.

Karier

Sepulang dari pendidikan di AS, Bahtiar mengajar di almamaternya, Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Bahtiar adalah salah satu pendiri Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dia juga Ketua Program Studi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) (2001-2004). Penulis buku Transformasi Pemikiran Islam dan Praktik Politik Islam di Indonesia (1998) ini juga aktif sebagai dosen Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Dosen Pascasarjana UMJ, Ketua Akademi Program Pascasarjana UIN Jakarta, dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Jakarta. Bahtiar juga berkecimpung di Ormas Islam, Muhammadiyah. Bahtiar Effendy (61 tahun) merupakan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2015-2020. Kini, almarhum dikenal sebagai seorang santri intelektual.

Pengakuan Sahabat

Kepakaran Bahtiar dalam ilmu politik dan Agam Islam diakui oleh sejumlah para sahabatnya. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan bahwa beberapa karya Bahtiar merupakan karya yang serius dan memiliki analisis tajam serta fokus. “Buku terjemahan disertasinya tentang Islam dan Negara maupun pengantarnya untuk buku Olivier Roy tentang Kegagalan Politik Islam sangat mendalam dan faktual. Demikian pula ketika memberi masukan-masukan tentang bagaimana Muhammadiyah menghadapi situasi politik kekinian, tajam dan bijak,” ujar Haedar pada Kamis (21/11/2019).

Karya Buku

Pada 1986, buku “Merambah Jalan Baru Islam: Rekontruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru” yang ditulis Prof. Bahtiar Effendy bersama mentornya, Prof. Fachly Ali, diterbitkan Penerbit Mizan. Setahun kemudian (1987), bersama H. Nasution, Bahtiar menerbitkan buku bertema HAM, Hak Azasi Manusia dalam Islam”, yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia.

Bahtiar Effendy dan Fachry Ali menerbitkan buku yang sering menjadi rujukan bagi para peminat studi Islam, berjudul “Merambah Jalan Baru Islam” (1986). Terbit juga buku tentang Islam dan politik antara lain, The Nine Stars and Politics: A Study of The Nahdlatul Ulama’s Acceptance of Asas Tunggal and its Withdrawal from Politics (1988). Bahtiar juga menerbitkan buku Islam and the State: The Transformation of Islamic Political Ideas and Practices in Indonesia”, yang merupakan disertasinya diterbitkan The Ohio State University (1994).

Kemudian, di masa Era Reformasi, Prof. Bahtiar Effendy menulis buku Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia” yang diterbitkan Paramadina (1998). Repolitisasi Islam, Benarkah Islam Kembali Berpolitik (2000), Teologi Baru Politik Islam (2001).

Cover Buku Islam dan Negara (Buku Digital)

Pada tahun 2011, Democracy Project Yayasan Abad Demokrasi menerbitkan buku Islam dan Negara dalam edisi kedua (Edisi Digital). Penerjemah judul “Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia” edisi digital adalah Ihsan Ali-Fauzi dan Rudy Harisyah Alam. Dalam pengantarnya di buku tersebut, Bahtiar mengutarakan; “Ini merupakan cetakan kedua dan diperluas dari buku Islam dan Negara Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di Indonesia. Dibanding cetakan pertama yang terbit tahun 1998, dalam buku ini tidak ada perubahan sama sekali menyangkut isi dan penafsiran. Meski demikian, ada sedikit perbedaan dengan edisi pertama. Selain tata letak dan cover yang berbeda, cetakan kedua ini juga memuat epilog yang membahas soal politik Islam di Indonesia pasca-Soeharto.”

Kemudian buku berikut adalah berjudul (Re)-Politisasi Islam: Pernahkah Islam Berhenti Berpolitik?” diterbitkan Mizan (2000). Setahun kemudian Galang Press menerbitkan Teologi Baru Politik Islam: Pertautan Agama, Negara, dan Demokrasi” dan Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan: Perbincangan Mengenai Islam, Masyarakat Madani, dan Etos Kewirausahaan”.

Di tahun 2002, Prof. Bahtiar ikut menyumbangkan pikiran dalam buku Ensiklopedi Tematis: Dunia Islam”, yang diterbitkan Ichtiar Baru Van Hoeve (2002). Setelah itu di tahun 2003, Institute of Southeast Asian Studies menerbitkan buku karya Prof. Bahtiar Effendy yang berjudul Islam and the State in Indonesia”.

Jalan Tengah Politik Islam: Kaitan Islam, Demokrasi, dan Negara yang Tidak Mudah” diterbitkan Ushul Press pada 2005. Buku terakhir dipublikasikan Prof. Bahtiar Effendy pada tahun 2017 dan berjudul Insight: Essays on Islam and Public Affairs”. Buku ini berisi rekaman pemikirannya terkait berbagai isu sosial, politik, pemerintahan, dan praktik keagamaan di Indonesia dari beberapa tahun sebelumnya.

Pemakaman

Bahtiar Effendy dimakamkan di TPU Lemperes Depok, sekitar pukul 12.35 WIB, Kamis (21/11/2019). Isak tangis pun terdengar ketika jasad Bahtiar dimasukkan ke liang lahat. Sejumlah peziarah dan keluarga terlihat menangis ketika jenazah Bahtiar dimakamkan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005-2010, KH Din Syamsuddin, dan para peziarah saat pemakaman Bahtiar Effendy. (Foto: Ismed Hasan Putro)
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005-2010, KH Din Syamsuddin, dan para peziarah saat pemakaman Bahtiar Effendy. (Foto: Ismed Hasan Putro)

Sejumlah peziarah masih menangis ketika jenazah Bahtiar diazankan oleh keluarganya di liang lahat. Kala jenazah Bahtiar dikebumikan, sejumlah peziarah melantunkan dzikir dan doa. (wikipedia/muhammadiyah/tirto/kompas/detik)


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *