Empat Kategori Pendidik

Dr. Mohammad Nasih
banner 800x800 banner 678x960

Oleh: Dr. Mohammad Nasih

Redaktur Ahli Hajinews.id , Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monash Institute, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Salah satu faktor paling menentukan keberhasilan pendidikan adalah pendidik. Lembaga pendidikan yang mampu menyediakan pendidik yang memadai dan semuanya mampu melakukan sinergi yang tepat, akan melahirkan SDM-SDM dengan kualitas yang telah direncanakan. Di antara cerita terkenal tentang pentingnya pendidik adalah pertanyaan Kaisar Jepang setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh Amerika: “Berapa guru yang masih tersisa?”

Pertanyaan itu dijadikan sebagai pertanyaan utama untuk diperhatikan. Sebab, dengan guru yang memadai, Jepang yang telah hancur, mampu melakukan recovery (perbaikan), lalu mengakselerasi diri untuk kembali menjadi negara yang diperhitungkan oleh negara-negara lain di seluruh dunia. Dan benar, Jepang mampu membuktikan diri unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan terutama teknologi.

Namun, di Indonesia, faktor ketersediaan pendidik masih menjadi masalah yang sangat besar, baik secara kuantitas maupun apalagi kualitas. Secara kuantitas itu nampak sekali dari rasio antara pendidik dan peserta didik yang masih sangat tidak rasional, yakni 1:28 bahkan lebih dari itu. Itu pun sesungguhnya merupakan rasio yang masih dipaksakan.

Ditambah lagi dengan masalah kualitas, kerena tidak semua yang bestatus formal pendidik memenuhi kualifikasi sebagai pendidik. Perlu dihitung ulang dengan lebih baik oleh pemerintah jumlah pendidik, terutama sekali guru di level pendidikan dasar dan menengah, yang benar-benar memiliki kompetensi untuk mendidik, bukan sekedar menyandang status pendidik karena tidak ada pilihan lain. Juga perlu dilakukan pemetaan orientasi mereka menjadi pendidik. Kapasitas dan juga orientasi mereka, sangat berpengaruh kepada capaian tujuan pendidikan nasional.

Berdasarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan pelaksanaan nilai-nilai dasar yang bersumber dari keyakinan secara konsisten sehingga menjadi akhlak yang benar, terdapat empat kategori pendidik.

Pertama, pendidik yang minim.                                    

Atau bahkan lebih ekstrem lagi, tidak menguasai bidang ilmu yang diajarkan. Padahal, yang paling fundamental dalam pendidikan adalah pengetahuan dengan nilai-nilai keutamaan. Dengan pengetahuan yang benar dilandasi nilai-nilai yang benar, akan lahir pikiran, perkataan, tindakan, kebiasaan, sampai pada akhlak yang benar. Karena itu, orang yang tak menguasai ilmu mestinya tidak boleh menjadi pendidik.

Namun, dalam banyak kasus, orang yang minim ilmu tetap direkrut sebagai pendidik, karena sangat dibutuhkan. Biasanya untuk sekedar memenuhi syarat administrarif. Terlebih di era digitalisasi yang membuat administrasi menjadi semakin ketat dan rigid. Pendidik kategori ini bisa dengan mudah ditemukan di lembaga-lembaga pendidikan di daerah-daerah pinggiran, atau tidak pinggiran tetapi tidak mampu memberikan imbalan yang memadai.

Kedua, pendidik yang menguasai ilmu.

Pendidik kategori ini memiliki kompetensi menjadi pendidik dalam batas mengajarkan ilmu pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu. Namun, yang dilakukan hanya sebatas transfer ilmu pengetahuan yang dimiliki. Ia tidak memiliki wawasan tentang nilai-nilai dasar yang mestinya disampaikan secara bersamaan, agar ilmu pengetahuan tetap berjalan berseiring dengan nilai-nilai yang bersumber dari kepercayaan yang benar.

Ketiga, pendidik berakhlak.

Akhlak bukan hanya perilaku yang dipandang baik. Sebab, baik dan buruk itu sesungguhnya relatif. Ia seringkali terbatas oleh ruang dan waktu. Namun, akhlak yang dimaksud ini adalah akhlak yang berdasar ilmu yang bersifat universal. Pendidik jenis ini menguasai ilmu pengetahuan dan sekaligus bisa memberikan contohnya secara konkret dalam sikap hidup yang benar.

Keempat, pendidik yang berakhlak dan sekaligus mampu memotivasi.

Pendidik inilah yang memiliki kualifikasi tertinggi atau yang sesungguhnya. Motivasi akan membuat para peserta didik melakukan pencarian untuk menemukan hal-hal baru. Motivasi itulah yang memungkinkan penemuan-penemuan baru, sehingga peserta didik akan menjadi lebih maju atau lebih hebat dibandingkan guru.

Pendidikan kategori inilah yang diinginkan oleh Socrates,  seorang filsuf ternama di Yunani Kuno, dalam sebuah ucapannya: “mendidik adalah mengobarkan api, bukan mengisi bejana kosong.” Jika hanya mengisi bejana kosong, maka jika ilmu “pamungkas” pendidik telah ditransfer, maka aktivitas pendidikan akan berhenti. Namun, jika mengobarkan api, maka api itu akan merambat ke mana pun sejauh ada ranting-ranting kering. Dan alam semesta ini, secara keseluruhan sesungguhnya adalah ranting kering yang bisa membuat api semakin membesar.

Sedangkan berdasarkan orientasinya, pendidik juga bisa dikategorikan menjadi empat:

Pertama, mendidik karena uang atau upah.

Mendidik, atau tepatnya di sini sesungguhnya hanyalah mengajar, karena terbatas pada transfer ilmu pengetahuan, dilakukan karena ingin mendapatkan imbalan materi. Yang dijadikan sebagai komoditas adalah ilmu pengetahuan. Jika ada bayaran, maka akan mengajar. Sebaliknya, jika tidak ada bayaran, maka tidak akan mengajar. Pendidik kategori pertama ini sudah lama dikenal dalam sejarah pendidikan.

Di Yunani Kuno misalnya, pun sudah ada, dan mereka dikenal sebagai para sofis (shopist√™s), yang dalam bahasa Inggris diartikan sebagai: seseorang yang menipu orang lain dengan mempergunakan argumentasi-argumentasi yang tidak sah. (Lihat, Prof. Dr. K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani: Dari Thales ke Aristoteles, Yogyakarta: Kanisisus, 1999, hlm. 83). Karena itu pulalah, al-Qur’an menegaskan untuk mengikuti orang yang tidak meminta bayaran dan mendapatkan petunjuk (Yasin: 21). Bagi pendidik kategori ini, para peserta didik mengalami peningkatan pemahaman atau tidak, itu tidak penting. Yang penting mereka mendapatkan uang.

Kedua, mendidik karena kemanusiaan.

Aktivitas mendidik  dilakukan karena panggilan untuk membantu orang lain yang tidak memiliki akses pendidikan agar mereka mengetahui realitas dunia, sehingga tidak menjadi korban. Dengan pendidikan diharapkan mereka bisa mengoptimalkan segala potensi budi daya yang dimiliki, sehingga bisa hidup mandiri. Misalnya, orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, tetapi mereka memiliki prinsip bahwa mereka harus berbuat kebaikan bagi manusia yang lain.

Tentu saja jika pun ada nilai-nilai yang diberikan, itu adalah nilai-nilai yang mereka pegang. Atau bisa juga, mereka benar-benar melakukan pendidikan sebagai sarana teknis untuk bisa berdaya dalam hidup dengan tetap memberikan ruang kepada nilai-nilai dasar, termasuk keyakinan, yang dimiliki oleh yang mereka didik. Karena tujuan mendidik adalah untuk memberdayakan orang lain, maka biasanya dilakukan dengan sangat serius sampai benar-benar nampak ada perubahan kehidupan para peserta didik.

Ketiga, mendidik untuk aktualisasi diri sendiri.

Orang yang memiliki ilmu pengetahuan sejatinya adalah orang yang memiliki kekayaan yang tidak ternilai. Namun, ilmu pengetahuan itu tidak akan dilihat dan dirasakan oleh orang lain jika tidak diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, atau minimal diajarkan kepada orang lain. Dengan menjadi pendidik, seorang yang menguasai ilmu pengetahuan, bisa mendapatkan pengakuan, minimal di lingkungan pendidikan, dan bisa juga lebih luas di dalam masyarakat. Terlebih di era medsos yang bisa digunakan sebagai sarana untuk membuat aktivitas pengajaran menjadi viral.

Dengan demikian, ia akan mendapat status yang tinggi di mata banyak orang, karena dihormati dan dikagumi. Bagi pendidik kategori ini, mengajar bukan untuk membuat orang lain menjadi mengerti atau memahami, melainkan sekedar untuk membangun kekaguman banyak orang.

Oleh sebab itu, tidak ada kesadaran, apalagi upaya serius, untuk menemukan metode dalam mendidik agar para peserta didik menjadi manusia yang mandiri. Bahkan ketergantungan kepada pendidik menjadi sangat diharapkan. Sebab, ketergantungan itu akan mendatangkan banyak sekali keuntungan, termasuk keuntungan material.

Keempat, mendidik karena Allah SWT.

Aktivitas mendidik dilakukan karena panggilan sebagai orang yang mewarisi Para Nabi (waratsat al-anbiyaa’). Karena Para Nabi mewariskan ajaran kebenaran, maka kebenaran itu harus disampaikan semata-mata untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. Pendidik ini menyadari bahwa untuk melakukan perjuangan mencerdaskan ummat, diperlukan banyak SDM. Karena itu, mereka melakukan kaderisasi secara serius agar ada pendidik-pendidik baru yang bisa memperkuat usaha mencerdaskan.

Pendidik kategori ini tidak mempersoalkan apakah ada yang memberikan materi atau tidak untuk aktivitas pendidikan yang dilakukan, apalagi tentang besarannya. Dan pendidik kategori inilah yang benar-benar bisa menjadi pendidik. Sebab, di samping mengajarkan ilmu, ia juga mentransformasikan nilai-nilai ilahiyah kepada para peserta didik. Nilai-nilai itulah yang akan membuat kehidupan manusia benar-benar baik. Ilmu pengetahuan yang tidak dibarengi dengan nilai-nilai tersebut bisa jadi justru akan menyebabkan kerusakan besar. Wallahu a’lam bi al-shawab.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *