Rizieqisme dan Tantangan Paska Pilpres

banner 800x800 banner 678x960

Oleh: Dr Syahganda Nainggolan,

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Sabang Merauke Circle

Setahun lalu saya sudah menulis “Rizieqisme, 212 & Pancasila Sama Rata Sama Rasa”, pada saat reuni 212. Saya akan melanjutkan tulisan itu menjelang “reuni 212” ke depan.

Ada 5 pilar Rizieqisme yang saya uraikan terdahulu yakni 1) perjuangan Islam adalah perjuangan keadilan sosial. 2) perjuangan harus diakar rumput. 3) Islam sebagai alat persatuan. 4) Radikal atau tidak mengenal kompromi. 5) Tanggung jawab sosial alias solidaritas.

Dengan spirit yang bersumber pada Rizieqisme, kita melihat fenomena terakhir adalah adanya dukungan besar ummat Islam hampir diseluruh pelosok negeri pada Prabowo, yang di “endorse” ulama sebagai capres, dengan bentuk gerakan massif, militan dan swadaya. Fenomene massif, militan dan swadaya merupan kejadian besar kedua dalam sejarah Indonesia, setelah dulu gerakan serikat Islam memobilisasi perlawanan massal di berbagai pelabuhan dan stasiun kereta api di jaman penjajahan Belanda.

Setelah pilpres dengan situasi Prabowo dinyatakan kalah, Habib Rizieq (HRS) sudah memberikan pernyataan tidak mengakui pemerintahan Jokowi. HRS menganggap pemerintahan Jokowi illegal karena hasil pemilu curang. Lalu, kita mengetahui Prabowo meninggalkan HRS dan pendukungnya, lalu dia bergabung ke Jokowi dan Megawati, masuk dalam pemerintahan Jokowi.

Lalu bagaimana gerakan Islam di Indonesia selanjutnya?
Dan bagaimana Rizieqisme mengawal gerakan tersebut?

Kedua pertanyaan ini kita munculkan mengingat pertarungan ummat Islam terhadap rezim Jokowi ternyata belum menemukan jalan baru yang melunak. Indikasi penting tentang jalan buntu itu 1) Pidato Megawati di Kongres V PDIP mengisyaratkan adanya situasi bangsa kita yang nyaris pecah belah. Namun, Megawati mengambil jalan “menyuap” Prabowo dengan “kue” kekuasaan, namun tetap melihat Islam sebagai ancaman. 2). Sukmawati Sukarnoputri, meski tidak terkait kakaknya, tetap memprovokasi situasi keterbelahan dengan menyatakan Sukarno lebih hebat dari Nabi Muhammad, beberapa hari lalu. 3) Agenda inti Jokowi adalah memerangi “radikalisme”, yang diidentikkan dengan bahaya menguatnya kesalehan ummat Islam Indonesia saat ini. 4) Rezim Jokowi mempromosikan penghina Islam, yakni Ahok, sebagai simbol manusia hebat dan bersih. 5) Adanya gerakan massif mendelegitimasi Anies, karena Anies merupakan figur tokoh Islam ke depan.

Dalam situasi perperangan dan keterbelahan yang berlanjut antara ummat Islam vs. gerakan yang ingin mendeskreditkan Islam, Rizieqisme mempunyai kemampuan mendorong konsolidasi perjuangan Islam pada tahap yang lebih matang.

Ada tiga hal yang menjadi indikasi penting yang menunjukkan kemenangam selangkah bagi perjuangan Islam. Yakni pertama, ketika Jokowi mendorong isu radikalisme sebagai ancaman sentral, ternyata penolakan atas isu ini meluas, sehingga Jokowi kelabakan dan meralatnya, dengan mengatakan maksud Jokowi adalah “manipulator agama”.

Kedua, adanya perpecahan sangat dalam pada koalisi Jokowi, yang sulit untuk dikonsolidasikan ulang. Perpecahan itu ditunjukkan oleh a) Surya Paloh, yakni mengundang Anies dalam pidato utama pembukaan Kongres partainya, Nasdem, bukan Jokowi; dan b) penunjukan kekecewaan Said Agil Siroj dengan mendoakan Habib Rizieq Sihab, musuh politik Jokowi, dalam pidatonya beberapa waktu lalu. Fenomena Paloh dan Said Aqil ini adalah “irreversible”, sebuah kekecewaan dalam karena mereka berdua jasanya memenangkan Jokowi mungkin lebih besar dari semua elemen lain, namun kurang diapresiasi.

Indikasi ketiga adalah situasi krisis ekonomi dunia saat ini, yang pasti berdampak ke kita. Macron, presiden Prancis, beberapa hari lalu sudah menyatakan dalam pidatonya, dunia saat ini dalam krisis ekonomi (unprecedented crisis). Pernyataan ini diberikan hanya beberapa waktu setelah kunjungan Macron dan rombongan pengusaha Prancis ke RRC. Artinya ekonomi dunia, baik di barat maupun di RRC sedang krisis. Situasi ini membuat perekonomian kita, yang selama ini bersandar pada hutang luar negeri dan investasi asing, khususnya RRC, akan mandeg alias terpuruk.

Situasi saat ini, seperti disebutkan di atas, pertarungan Sekulerism yang didukung negara vs Islam, dengan indikasi solidnya ummat Islam dan melemahnya eksistensi negara dan elit2 rezim Jokowi ke depan, kebangkitan ummat dapat terkonsolidasi lebih matang.

Dikonsolidasikan maksudnya elit2 Islam dapat bergerak lebih aktif, seperti langkah PKS baru2 ini yang pro aktif menjalin hubungan dengam Surya Paloh. Jika tidak dikonsolidasi, artinya menungggu secara natural dan pasif, yang terjadi karena dinamika sistem yang rapuh.

Elite vs Grassroots

Penguasaan elit oleh rezim Jokowi setelah pilpres di satu sisi memperlihatkan seolah2 kelompok Jokowi atau pendukungnya sudah menguasai negara atau pusat kekuasaan. Namun, krisis politik berupa perpecahan mereka dan krisis ekonomi, khususnya terkait kesulitan keuangan negara saat ini, menunjukkan sisi bahayanya rezim Jokowi saat ini. Sebuah negara dan elit yang terbelah dan krisis keuangan akan menjadi ancaman perlawanan, khususnya dari internal mereka sendiri.

Sementara itu, ummat Islam dalam naungan Rizieqisme ataupun “spirit 212” tetap bertahan. Situasi bertahan ini memang ciri khas gerkan “bazaar” ummat Islam yang biasa swadaya dan mempunyai kohesifitas idiologis.

Kedua fenomena yang terbelah dan berkontestasi di atas, apabila terjadi krisis ekonomi dalam beberapa waktu ke depan, akan mengalami benturan, jika tidak ada kekuatan yang menjembatani kepentingan eksistensi keduanya.

Jika sebaliknya tidak ada krisis ekonomi itu, maka situasi ini, keterbelahan, tanpa benturan, akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.

Penutup

Kemampuan Rizieqisme mengarahkan konsolidasi ummat Islam sudah berlangsung baik. Dalam sutuasi krisis kepercayaan pada elit2 nasional, “trust” atau kepercayaan adalah barang yang paling berharga. Rizieq Sihab saat ini adalah tokoh yang paling dipercaya ummat Islam. Apalagi ketua NU mulai menunjukkan sikap berbalik, yakni mendoakan HRS.

Dalam rangka reuni 212, HRS dan tokoh2 Islam harus memikirkan gerakan yang terkonsolidasi atau jangan secara pasif menunggu perubahan besar – karena berharap runtuhnya “establisment”.

Gerakan terkonsolidasi artinya bergerak aktif, seperti langkah PKS yang gesit berkomunikasi, misalnya dengan Surya Paloh dan Tommy Suharto. Langkah ini bisa lebih kuat lagi jika “Trust” yang dimiliki HRS diaplikasikan pada gerakan “(Mutual) Trust Fund”, misalnya, atau gerakan jaringan keummatan yang lebih membumi.

Dalam konteks membumi, tantangan besar setelah konsolidasi dan pematangan gerakan, bagi rencana ummat Islam ke depan, adalah membangun jaringan perekonomian ummat berbasis teknologi dan fintek. Hal ini untuk menghindari dampak merosotnya ekonomi pada rakyat kecil dan orang2 miskin.

Sebagai penutup, Rizieqisme dengan adanya atau kuatnya kepercayaan ummat pada HRS, optimisme gerakan ummat dan “reuni 212” dapat secepatnya ditingkatkan pada level yang matang.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *