Perekonomian Tahun 2020 Masih Banyak Tekanan





Jakarta, hajinews.id—Emiten fast moving consumer goods (FMCG), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memprediksi pada 2020 masih banyak tekanan seiring belum jelasnya “drama” perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang membuat ekonomi global melambat dan muncul ancaman resesi.

Direktur merangkap Sekretaris Perusahaan Unilever, Sancoyo Antarikso optimistis, perseroan masih bisa tetap tumbuh dengan tetap mempertahankan relevansi produk-produk Unilever di pasar.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

“Buat kami di FMCG (fast moving consumer goods) tentu saja bisa mempertahankan relevansi produk kami untuk konsumer kami, jangan sampai mereka keluar,” ungkap Sancoyo Antarikso, saat ditemui di Graha Unilever, BSD Greeen Office Park, Tangerang, Rabu (20/11/2019).

Situasi perlambatan ekonomi domestik memang cukup terasa dampaknya bagi emiten konsumer. Wajar saja, dari data Badan Pusat Statistik, konsumsi rumah tangga tumbuh lebih lambat yang tercatat 5,011 persen dari PDB Indonesia pada Triwulan III 2019 yang tumbuh 5,02 persen.

“Konsumsi swasta sendiri di Q3 is not bad sebetulnya, tapi masih lebih rendah dibanding total GDP growth, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5,01% dibanding GDP 5,02%,” ungkap Sancoyo.

Hal ini terefleksikan dari kinerja keuangan UNVR pada triwulan III-2019 yang cukup tertekan di pos laba bersih. Laba bersih perusahaan terkoreksi cukup dalam hingga dua digit, yakni sebesar 24,37% secara tahunan. Padahal sepanjang semester I-2019, laba bersih UNVR masih dapat tumbuh 5,21% YoY.

Memang, penurunan signifikan tersebut disebabkan, pada 2 Juli 2018, UNVR menorehkan keuntungan dari transaksi penjualan aset tak berwujud untuk kategori ‘Spreads’ dengan PT Upfield Consulting Indonesia dengan nilai keuntungan mencapai Rp 2,66 triliun.

“Karena kan kita masih jualan Spreads sampai Juni 2018. Jadi itu harus dikeluarkan dulu, kalau itu dikeluarkan, labanya naik di atas 11%,” ungkap dia.

Adapun, total keuntungan yang mampu dikantongi UNVR per akhir September 2019 hanya sebesar Rp 5,51 triliun, turun dari periode yang sama tahun sebelumnya mencapai Rp 7,29 triliun. Alhasil, marjin bersih perusahaan turun ke level 17,03% dari sebelumnya 23,1%.

Untuk itu, Unilever mendorong pemerintah membuat kebijakan menggenjot konsumsi rumah tangga domestik kembali meningkat seperti alokasi dana desa dan program padat karya (cash for work).

“Konsumsi swasta harus didorong supaya tidak melemah, itu yang perlu didorong pemerintah dalam mengeluarkan kebijakannya,” pungkas Sancoyo.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.