MUI Sumbar Dukung Seruan Agar Pejabat Tak Gunakan Salam Semua Agama


banner 800x800

banner 400x400

Padang, hajinews.id-— Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar mengatakan MUI Sumbar mendukung seruan dan imbauan MUI Jatim agar umat Islam terutama para pejabat tidak menggunakan salam semua agama pada acara-acara resmi.

MUI Sumbar juga mengingatkan agar umat lain tidak menggunakan salam umat Islam sebagai pembuka pembicaraan mereka.

Bacaan Lainnya

“Bagi kaum muslimin, salam bukanlah semata pembuka pidato atau pembukaan pembicaraan. Salam merupakan do’a keselamatan dan rahmat untuk orang yang diberikan salam. Do’a atau permohonan, haram hukumnya dimintakan kepada selain Allah swt. Itulah yang ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan). Sehingga umat islam khususnya pejabat diimbau untuk tidak mengucapkan salam semua agama, begitupun sebaliknya bagi umat lain,” ungkapnya kepada Haluan, Minggu (10/11).

Di samping itu, Buya Gusrizal menambakan bahwa memintakan rahmat dan keselamatan tentu berlandaskan pula kepada keyakinan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak mendapatkan rahmat dan keselamatan tersebut.

“Jadi dalam ucapan salam, ada aqidah dan ada ibadah. Keduanya tidaklah boleh ditundukkan pada inklusifitas toleransi antar umat beragama,” kata Buya Gusrizal.
Ia menambhakan, berpedoman pada ayat “Lakum diinukum wa liiyya diin” (untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku), merupakan ketentuan muthlak yang harus dipakai dalam masalah ini.


“Imbauan ini memang patut sekali ditujukan lebih khusus kepada para pejabat. Menduduki jabatan tinggi, belum tentu menjamin seseorang faham secara mendalam bagaimana cara beragama.Karena itu, semestinya sikap keberagamaan tidaklah ditauladani dari seseorang hanya dengan melihat jabatan yang dia sandang.Namun apa hendak dikata, kondisi umat hari ini begitu mudah terpengaruh oleh cara-cara yang dilakukan oleh mereka yang berkuasa. Ditambah lagi dengan sikap menjilat dan asal bapak senang, cenderung membuat “bawahan” ikut-ikutan dengan cara-cara “atasan” walaupun keliru,” tegasnya.

Dengan alasan di atas, menurutnya, patut sekali para pejabat menyadari bahwa cara-cara yang mereka lakukan bisa membawa kepada kesesatan dalam bentuk pluralisme agama.
“Hal itu bisa masuk dalam kategori pemimpin jahil yang sesat dan menyesatkan,” jelasnya.

Melalui imbauan ini ia berharap agar, umat muslim khususnya pejabat tidak lagi menggunakan salam pembuka seluruh agama tersebut.

“Saya mengingatkan para pemimpin negeri ini, janganlah menjadi pemula dalam kesalahan. Dengarkanlah peringatan Nabi saw, ‘siapa saja yang menjadi pembuka jalan keburukan, akan memikul dosa perbuataannya dan perbuatan orang-orang yang mengikutinya’. Allahu yahdii man yasyaa’ ila shiraathim mustaqiim,” tutupnya. 

Sumber: HARIANHALUAN.COM –


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.