Menyulam Benang Kebangsaan NU dan FPI


banner 800x800

banner 400x400

Oleh KH. Imam Jazuli, Lc., M.A

Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Periode 2010-2015.

Bacaan Lainnya


Al-muhafazhah ‘alal qadimis soleh wal akhdzu bil jadidil ashlah adalah slogan PBNU yang tidak semata menyangkut persoalan agama dan kebudayaan melainkan juga sosial-politik.
Melestarikan yang lama dan mengadopsi yang, selama bernilai positif dan bermanfaat bagi umat, adalah prinsip NU.

Di bawah kibaran spirit menjaga keutuhan bangsa dan negara, NU yang selama ini berdakwah dengan jalan “amar ma’ruf” dapat merangkul Front Pembela Islam (FPI) yang ciri dakwahnya “nahi munkar”.

Perjumpaan antara NU-FPI bagaikan butiran gula pasir dan serbuk bubuk kopi. Sehingga perpaduan amar ma’ruf dan nahi munkar nyaris menciptakan kolaborasi sempurna.
Di samping itu, NU dan FPI secara ideologi merupakan cabang-cabang keagamaan yang sama-sama berakar pada Ahlus Sunah wal Jamaah. NU tidak bermasalah dengan Syi’ah, non-muslim, maupun aliran kepercayaan yang non-Abrahamik. Apalagi dengan FPI.

Perbedaan antara NU-FPI adalah perbedaan furu’iyah dan lebih sempit lagi perbedaan jalan dakwah. Manhaj dakwah. Perbedaan furu’iyah itu sendiri adalah sunatulah, karena setiap entitas sejarah lahir dari rahim peradaban dan kebudayaan berbeda. FPI dan NU lahir dalam semangat jaman berbeda. Perbedaan furu’iyah-manhajiyah, semisal dalam konteks amar ma’ruf dan nahi munkar, adalah anak jaman.

Produk situasi sejarah yang parsial dan kontekstual. Dalam konteks ilmu Ushulul Fiqh, jaman berbeda maka hukum pun berbeda. Jaman menentukan hukum. Dalam suatu jaman, di saat kebenaran lemah lembut diabaikan oleh penguasa, maka jalan nahi mungkar tentu dibutuhkan untuk sedikit keras.


Sebaliknya, bila nasehat kebijaksanaan sudah membuat penguasa tunduk patuh, maka jalan amar ma’ruf dibutuhkan dan nahi munkar dikandangkan. Ketika jalur-jalur dakwah NU tidak dibutuhkan, mungkin inilah saatnya jalur dakwah FPI menemukan tempatnya.
Merangkul FPI ke dalam jalan perjuangan NU sama saja melengkapi perangkat dakwah Islamiah.

Walisongo, kiyai dan ulama terdahulu menggunakan jalan dakwah amar ma’ruf kepada penguasa-penguasa yang mau komitmen pada agama dan umat. Jangan tanyakan lagi bagaimana keintiman para Walisongo dengan Raja Demak, Kerajaan Islam pertama di bumi Nusantara. Tetapi, lihatlah bagaimana Pangeran Diponegoro menjadi “pemberontak” pada tatanan Jawa yang sudah kongkalikong dengan kolonialisme Belanda.

Lihatlah pula bagaimana kaum santri dan kiyai melahirkan Resolusi Jihad. Dalam konteks ini, jalan dakwah nahi munkar diperlukan. Kolaborasi NU-FPI adalah kolaborasi furu’iyah, sebab pada level ushuliyah kedua ormas itu adalah Ahlus Sunah wal Jamaah. NU tidak bisa melakukan perlawanan keras terhadap musuhnya, karena prinsip dasar NU adalah tawasut, tasamuh, tawazun, dan i’tidal.

Namun, FPI sangat mungkin melakukan konter yang agak keras, terlebih dalam membantu NU menghadapi kaum-kaum kapitalis, pemodal besar, pengusaha berjiwa serigala, yang hanya mau menghisap hasil kerja keras kaum buruh, rakyat miskin desa dan kota, para penyeleweng kekuasaan dan pelanggar hukum.

FPI selama ini melakukan kekerasan karena melihat pemerintah absen dari kepentingan rakyat. FPI dapat menjadi “banom” non-struktural bagi PBNU. Kolaborasi NU-FPI di sisi lain mencerminkan dua watak ilahiah yang kasatmata kontra produktif namun secara substansial adalah satu.

Kita bisa lihat sifat ilahiah “adh-Dharr (Pembawa Bencana)” dan “An-nafi’ (Pembawa Manfaat)”. Allah Swt. memiliki dua sifat ini pada diri-Nya, sehingga sangatlah logis bila Allah merahmati hamba-hamba-Nya dan sekaligus menghukum dengan azab pedih bagi musuh-musuh-Nya. Sebab, hamba dan musuh Allah adalah objek dari sifat-Nya.

Ketika penyakit sosial, korupsi, penindasan rakyat miskin, penyelewengan kekuasaan dan hukum keadilan, merebaknya kemaksiatan, hancurnya tatanan moral sosial, dan apa pun yang membahayakan masyarakat oleh sebab perilaku penguasa (penguasa politik maupun pemodal-kapitalis), maka FPI hadir.

Kehadiran FPI selama ini hanya tatkala pemerintah abai dan absen dari kepentingan umat. FPI hadir ketika keberatannya tidak di dengar, dan sementara pemerintah terjebak oleh lingkaran elitenya yang berseberangan dengan FPI. Namun begitu, perjumpaan butiran gula dan serbuk bubuk kopi tidak lantas mengubah gula jadi kopi, atau kopi jadi gula.
Kolaborasi NU dan FPI adalah kolaborasi kontrol.

NU dalam mengontrol FPI supaya tidak jatuh ke dalam gerakan radikalisme agama, menentang pilar-pilar kebangsaan Indonesia, atau menjadi garis ekstrimis yang membabi buta. FPI pun dapat mengontrol agar NU tidak jauh jatuh ke dalam ekstrimisme moderat, sampai-sampai mengamini liberalisme ekstrem, sekularisme ekstrim, dan pluralisme ekstrim. FPI dalam mengontrol adanya penyelewengan makna Ahlus Sunah wal Jamaah dalam tubuh NU sendiri.

Tahun 2019 adalah anugerah besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Presiden Jokowi adalah simbol anugerah Tuhan yang besar bagi rakyat Indonesia. Bersatunya Jokowi dan Prabowo harus dimaknai sebagai persatuan putra-putra terbaik bangsa Indonesia. Hanya saja, mereka berdua itu masuk dalam kategori kelas-kelas elite penguasa. Karenanya, rakyat kecil dan arus bawah harus ikut jejak para pemimpin, dalam menyatukan seluruh perbedaan di tingkat akar rumput.

Perjumpaan PBNU dan FPI adalah simbol awal, sebuah rintisan, yang perlu diuji coba dan diperjuangkan, bahwa putra-putra bangsa tidak saja mampu bersatu di kalangan elite, melainkan kelas sosial akar rumput juga bisa bersatu. Namun, ini belum selesai. Berikutnya, adalah persatuan antara rakyat kecil dengan penguasa. Yang dalam khazanah leluhur kita disebut: “manunggaling kawula lan gusti”. Yakni, persatuan antara kepentingan penguasa dan rakyat kecil.

Jokowi dan Prabowo bersatu. NU dan FPI bersatu. Selangkah lagi, penguasa dan rakyat bersatu.  Apabila ini semua tercapai, tanpa dibayang-bayangi keretakan hanya gara-gara tidak dapat jatah kekuasaan dan urusan perut lainnya, maka insya Allah, arwah pahlawan kita yang gugur di medan tempur akan tersenyum bangga. Mereka melihat generasi penerusnya mampu menerjemahkan makna Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa!.

Sumber: Tribumnnews.com


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.