Makna Kalimat Thoyibah vs Kalimat Kotor





Oleh: Ustadz  Syukron Makmun

(Kajian Ba’da Shubuh, DKM Al-‘Itisham Budi Agung)

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Bismillahirrahmanirrahim

Pagi Jum’at ini,  jama’ah yang berbahagia yang dimuliakan Allah;

bagaimana kita memaknai firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim (14): 24 – 27.

Allah SWT berfirman:

Ibrahim 14: Ayat 24

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَآءِ

a lam taro kaifa dhoroballohu masalang kalimatan thoyyibatang kasyajarotin thoyyibatin ashluhaa saabituw wa far’uhaa fis-samaaa`

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,”

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Bahwa makna  kalimat thoyibah itu berarti :

1. LAILLAHAILLALLAH;

2. MENGAJAK KEPADA KEIMANAN.

Penjelasan atas kedua makna:

Pertama, kalimat Laillahaillallah Menandakan bahwa itu menunjukkan ketauhidan kepada Maha Pencipta yang kokoh-keyakinan kita kepadaNya seperti pohon yang akarnya menghujam ke dalam tanah dengan cabang dan dahannya menjulang ke langit dengan penuh bebuahan (kebaikan penuh keberkahan), ibarat pohon kurma yang berbuah sepanjang musim  (terus menerus) padahal ditanam di tempat  bebatuan dan berpasir.

Hal kedua, dalam hal mengajak  kepada  keimanan yang pada dasarnya sangat abstrak namun penuh makna, ketika keimanan itu menghasilkan, untuk/agar kita mampu:

a. Menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya;

b. Menjalankan kewajibanNya;

c. Ketika menjalankan hidup (khalifatul fil ardl).

Yang diibaratkan pohon yang menghasilkan buahnya setiap saat (QS 14:25);

Allah SWT berfirman:

Ibrahim 14: Ayat 25

تُؤْتِيْۤ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍۢ بِاِذْنِ رَبِّهَا ۗ  وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ  لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ

tu`tiii ukulahaa kulla hiinim bi`izni robbihaa, wa yadhribullohul-amsaala lin-naasi la’allahum yatazakkaruun     

“(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.”

Sebaliknya secara kontradiktif adalah kalimat  keburukan (hal-hal kotor);  sebagaimana dijelaskan dalam QS Ibrahim (14): 26

Ibrahim 14: Ayat 26

wa masalu kalimatin khobiisating kasyajarotin khobiisatinijtussat min fauqil-ardhi maa lahaa ming qoroor

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.”

Kisah berikut sebagaimana dijelaskan oleh Abu Hanifah tentang  argumentasi kekafiran :

1. Tidak ada akarnya,

2. Buahnya busuk, (bahkan tidak berbuah), dan

2. Dahannya rapuh (meranggas akhirnya mati).

Kemudian, Ada beberapa hal yang menarik  untuk didialogkan adalah bagaimana, perumpamaan :

1. Siapa yang menciptakan alam semesta?;

Ketika siklus kehidupan itu digambarkan bagaimana pohon yang tumbuh menjadi kokoh lalu berbuah, berbunga dan berbuah lagi dstnya sebagai siklus berkelanjutan, demikian pula bagaimana alam semesta juga terus berkembang menjadi ruang antar galaksi yang secara empiris banyak ilmuwan yang telah membuktikan tentang hal ini secara menakjubkan bahwa alam semesta berkembang dan tumbuh berkelanjutan;

2. Ketika anda dalam rahim ibu, apakah dalam rahim itu ada pembuangan kotoran  (semacam septitank-nya), ternyata tidak ada untuk itu; namun  dengan ciptaanNya maka rahim itu sesuatu yang luarbiasa karena mampu menahan dan memelihara janin selama 9 bulan.

3. Ketika setan terbuat dari api hal yang sama juga bahwa  Neraka juga Api yang bergejolak;  maka api ketemu api…. seolah tidak apa-apa; bagaimana kalau manusia  terbuat dari tanah.

Karena neraka akan diisi oleh bangsa manusia dan jin yang menentang ketauhidan dan keimanan kepada Allah SWT.

Untuk itu mari kita datangi majelis-majelis ilmu (taklim) untuk menghadirkan  hati kita dalam suasana keimanan nan semakin kokoh dan teguh kepadaNya yang terus bertumbuh dan berkembang menjadi amal sholeh dalam kehidupan sehingga kita menjadi hamba Allah yang khaerunnas anfa’uhum linnas.

Aamiin yra.

Hal ini ditegaskan dalam bagian akhir kajian dari QS Ibrahim (14): 27, bahwa

Allah SWT berfirman:

يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا لْقَوْلِ الثَّا بِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰ خِرَةِ ۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَ ۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَآءُ

Yusabbitullohullaziina aamanuu bil-qoulis-saabiti fil-hayaatid-dun-yaa wa fil-aakhiroh, wa yudhillullohuzh-zhoolimiin, wa yaf’alullohu maa yasyaaa`

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”

(QS. Ibrahim 14: Ayat 27)

Semoga Bermanfaat.

Barakallahu fiikuum;

Jazakakumulllah Khairan Katsira.

Wallahu’alam bissawab.

Nasrun minnallah wa fat-hun qoriib.

Bogor, Jum’at  08 November 2019

Notulis Risalah by MUFAS, Al Faqir.

Catatan: Boleh dan silahkan dishare Majelis Dakwah Al ‘Itisham

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.