Tujuh Kewajiban Kita kepada Al-Qur’an


banner 800x800

banner 400x400

Oleh: Dr Mohammmad Nasih M.Si

Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pendiri Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen, Pamotan, Rembang, Jateng. Redaktur Ahli Hajinews.id.

Bacaan Lainnya

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril yang membacanya mendatangkan pahala. Isinya menjadi petunjuk bagi seluruh ummat manusia. Agar benar-benar bisa menjadi petunjuk bagi seluruh manusia, maka manusia memiliki tujuh kewajiban berikut ini:

Pertama, membacanya. Sesuai dengan namanya, al-Qur’an, berarti bacaan, maka al-Qur’an memiliki keinginan untuk dibaca. Membaca al-Qur’an tidak boleh sembarang membaca, tetapi harus membacanya dengan benar.

Kalau dibaca dengan benar, akan muncul nuansa yang berbeda. Terutama rimanya yang sangat teratur dan unik, akan melahirkan keindahan dan kenyamaan tersendiri, yang bisa dirasakan oleh siapa pun, walaupun tidak tahu artinya. Kaidah untuk itu disebut tajwid, berarti membaguskan bacaan.

Di antara yang harus diperhatikan adalah makharij al-huruf (tempat keluar huruf) dan waqf (tempat berhenti). Makhrajnya harus tepat, karena ada huruf-huruf yang mirip, tetapi berimplikasi kepada makna yang sangat jauh berbeda. Berbeda satu titik saja, sudah berbeda huruf, dan tentu saja bisa berbeda makna. Demikian pula titik-titik pemberhentiannya harus sesuai, sehingga maknanya sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Allah.

Karena itu, membaca al-Qur’an memerlukan panduan khusus. Muslim di Indonesia yang menjadi mayoritas penduduk negara, ternyata hanya 40 persennya saja yang bisa membaca huruf al-Qur’an. Sedangkan yang bisa membaca al-Qur’an dengan benar, alias sesuai dengan kaidah tajwid, tidak lebih dari 4 persen saja.

Penyebab sebagian mereka tidak memperbaiki bacaan mereka adalah merasa bahwa bacaan mereka sudah benar. Karena itu diperlukan kesadaran baru untuk melakukan validasi bacaan kepada guru-guru al-Qur’an yang kualitasnya bisa dipastikan baik. Bisa di pondok pesantren khusus al-Qur’an, lembaga pendidikan Islam, atau perguruan tinggi dengan fokus kajian al-Qur’an dan/atau bahasa Arab.

Setelah itu membiasakan membaca al-Qur’an dalam kehidupan keseharian, agar membaca al-Qur’an menjadi semudah membaca huruf-huruf abjad Latin.

Kedua, mengetahui makna literal kata-kata yang digunakan al-Qur’an. Terutama bagi bangsa Indonesia yang menggunakan bahasa Melayu, menguasai makna literal kata-kata dalam al-Qur’an relatif jauh lebih mudah dibandingkan bangsa-bangsa lain.

Di antara penyebabnya adalah banyak kata di dalam al-Qur’an telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Ada sebanyak 77.349 kata di dalam al-Qur’an. Dan sesungguhnya itu berasal dari hanya kira-kira 2728 (perlu validasi) kata dasar. Jika setiap hari menghafalkan makna 10 kata dasar, maka tidak sampai setahun, makna literal al-Qur’an akan bisa dikuasai. Jika dikurangi dengan kata yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, maka jumlah kata yang harus dihafal, akan berkurang sangat signifikan.

Sebenarnya, cukup banyak kata yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Sebagiannya cukup populer, seperti shalat, zakat, infak, shadaqah, iman, takwa, yakin, nikah, sirri, dan wakil. Sebagiannya lagi tidak disadari oleh sebagian besar orang, seperti i’laan (pengumuman, iklan), wali (penguasa, wali nikah, wali kota), ilmu, dll.

Orang yang memiliki kesungguhan untuk memahami makna ini, bisa memulai dengan mempelajari kaidah padanan kata yang bisa dilakukan secara sangat singkat. Dengan modal itu, mengidentifikasi kata dasar akan menjadi sangat mudah.

Ketiga, menghafalkan al-Qur’an. Menghafalkan al-Qur’an lebih mudah dilakukan jika sudah mengetahui makna kata-katanya. Sebab, di samping orang yang memahami makna literalnya pasti telah memahami kaidah padanan kata yang berimplikasi pada mudah dalam pengucapan, juga memungkinkan untuk menghubungkan antara satu kata dengan kata selanjutnya, lalu satu ayat dengan ayat berikutnya.

Apalagi ayat-ayat kisah, baik yang pendek, apalagi jika kisah panjang seperti yang terdapat dalam surat Yusuf dan al-Qashah. Menghafalkannya akan seperti bertamasya ke tempat-tempat yang disebutkan. Tentu saja itu adalah imajinasi sendiri.

Keempat, merenungkan al-Qur’an. Al-Qur’an oleh banyak ahli tafsir diibaratkan sebagai permata dengan banyak sisi. Jika direnungkan dengan mendalam, maka akan muncul pemahaman-pemahaman baru yang saling melengkapi, bagaikan warna warni cahaya yang terpantul dari setiap sisi mutiara yang sering digambarkan berbentuk heksagonal. Itu baru dari satu ayat.

Jika diinterkoneksikan dengan ayat-ayat yang lain, maka akan muncul pemahaman yang makin komprehensif, dan tentu saja bisa menghindarkan dari kesalahpahaman. Juga harus dihubungkan dengan hadits Nabi yang seringkali merupakan penjelas ayat al-Qur’an.

Misalnya, ketika Rasulullah membacakan “Orang-orang yang beriman, dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedhaliman, maka mereka akan mendapatkan keamanan dan petunjuk” (al-An’aam: 82). Mendengar ayat itu, para sahabat merasa bahwa mereka tidak memenuhi syarat “tidak dhalim”. Mendengar pengaduan mereka, Rasulullah menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan dhalim sebagaimana mereka pahami, melainkan dhalim sebagaimana di dalam “Sesungguhnya syirik (menyekutukan Allah) adalah kedhaliman yang besar” (Luqman: 13).

Dengan melakukan perenungan secara intensif, maka pemahaman kepada ajaran-ajaran al-Qur’an akan menjadi lebih baik, dan makin dekat kepada kebenaran yang dimaksudkan oleh Allah dan RasulNya. Dengan begitu, akan bisa menjalan kewajiban penting berikutnya, yaitu:

Kelima, melaksanakannya. Tujuan membaca al-Qur’an tentu saja adalah agar lebih mudah dipahami, lalu bisa diamalkan. Misalnya, bisa memahami bagian tubuh mana saja dan urutannya untuk berwudlu, pembagian warisan, menyusui anak, dll. Orang yang melaksanakannya, maka akan tampil sebagai pribadi yang baik, dan pasti akan menarik sebagian orang, tanpa disengaja. Inilah yang disebut lisaan al-haal (mengatakan dengan perilaku) yang sering dipandang lebih efektif dalam mempengaruhi orang.

Nah, agar lebih banyak lagi yang juga bisa melakukan hal yang sama, diperlukan upaya-upaya yang disengaja dan terstruktur dengan baik sebagai bentuk kewajiban selanjutnya yaitu:

Keenam, mengajarkannya. Semua yang berkaitan dengan al-Qur’an sehingga ajaran di dalamnya bisa diamalkan oleh makin banyak orang, perlu diajarkan. Bahkan Nabi menekankan untuk menyampaikannya walaupun hanya satu ayat saja. Ini sesungguhnya wajib dilakukan oleh setiap muslim, agar kebenaran bisa juga diketahui dan dilakukan oleh orang lain, sehingga mereka bersama-sama bisa melaksanakan dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.

Ketujuh, memperjuangkannya. Memperjuangkan al-Qur’an yang dimaksud di sini sudah lebih spesifik, yaitu mentransformasikannya dalam kehidupan bersama. Jalannya adalah politik. Jalan ini disebut jalan perjuangan, karena banyak sekali ideologi politik yang dianut untuk menata negara.

Karena itu, nilai-nilai yang ada di dalam al-Qur’an tentu akan bertemu dengan nilai-nilai lain yang berbeda, bahkan bisa jadi bertentangan. Karena itu diperlukan para aktivis pejuang yang memiliki kualitas keilmuan dan sekaligus keterampilan dalam mentransformasikan ajaran-ajaran al-Qur’an ke dalam produk-produk kebijakan politik, dan lebih baik dengan tanpa mengusik hubungan harmonis dengan entitas-entitas politik yang lain.

Jika ketujuh hal tadi sudah bisa dijalankan dengan baik, maka akan tercipta kehidupan yang ideal, baik dalam konteks pribadi, bermasyarakat, maupun bernegara. Negara akan terwujud sebagaimana konsepsi al-Qur’an, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang baik dalam liputan ampunan Tuhan. Wallahu a’lam bi al-shawab.


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.