Dalam Islam, Jabatan Tidak Boleh Diminta Apalagi Dikejar-kejar





Oleh: Ust MOH. NAUFAL DUNGGIO Msc.
Ketua LDK Pengurus Wilayah Muhammadiyah DKI

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Dalam Islam, jabatan dan kedudukan itu gak boleh diminta apalagi dikejar-kejar. Bila ada yang meminta maka wajib jangan diberi jabatan itu kepadanya karena pasti dia tidak akan amanah. Itu akhlaq yang dipegang oleh warga Perserikatan Muhammadiyah. Sehingga Muhammadiyah tidak merasa beban bila ada terjadi pergantian rezim.

Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan Tahun 1912 M, karakter utama Muhammadiyah adalah memberi bukan meminta. Tidak terhitung lagi berapa banyak Muhammadiyah memberi terhadap bangsa ini dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial lainnya. Itulah kekuatan utama Muhammadiyah.

Jadi Muhammadiyah tidak perlu ikut-ikutan marah bila tidak mendapat tempat di pemerintahan kayak yang lain “tetangga sebelah” sampai harus memaksa dan mengancam serta mendo’akan yang jelek.

Dikasih jabatan dilakukan dengan amanah, tidak dikasih juga di Muhammadiyah penuh dengan ladang kerjaan dan bakti untuk umat dan bangsa.

Coba bayangkan kalau Muhammadiyah ikutan marah-marah karena tidak mendapat Menteri Pendidikan yang biasa menjadi pos Muhammadiyah, kemudian Ketua Muhammadiyah Ayahanda Haedar Nashir memerintahkan menutup semua Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dalam bidang pendidikan dari jenjang taman kanak-kanak (Roudhatul Atfal) sampai Perguruan Tinggi satu bulan aja. Mau jadi apa negeri ini.

Kalau itu terjadi maka anak buah Mendikbud Nadiem Makarim yakni Gojek yang pertama merasakan dampak buruk itu. Bisa tidak makan mereka karena pelanggannya hilang dalam sebulan.

Apalagi Mendikbud sekarang ini lagi diragukan keIslamannya karena istrinya “Katholik” maka lengkap sudah penderitaan bangsa ini. Tapi sudah pasti Muhammadiyah tidak akan melakukan itu.

Marah-marah karena ingin meraih jabatan, itu kebiasaan bangsa primitif . Di Islam, tidak ada itu. Maka sangat disayangkan kalau ada orang yang melecehkan Muhammadiyah seperti yang dilakukan oleh Sumanto Kanibal dengan mengatakan Muhammadiyah tidak bisa ndalil.

Di Muhammadiyah banyak kader-kader yang ahli baca kitab kuning tapi mereka tidak mau menampakkan keahlian mereka untuk mencari-cari dalil sebagai justifikasi suatu masalah yang salah dijadikan benar.

Tradisi baca kitab di Muhammadiyah sudah ada sejak Yai Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Dan banyak kader Muhammadiyah keluaran Timur Tengah. Tak terhitung jumlah mereka.

Pendidikan di Muhammadiyah, jangankan kitab kuning, kitab hijau, merah, biru, putih bahkan kitab setengah warnapun diajarin di Muhammadiyah oleh para ustadz dan Kyai.

Mau kitab gundul ke, mau kitab botak ke dan kitab setengah gundul dan botak juga ada. Jadi jangan coba-coba melecehkan Muhammadiyah dalam bidang menuntut ilmu. Bakal susah kau nanti. 

Kalau kader Muhammadiyah tidak mengerti baca kitab kuning maka tidak akan mungkin sekolah-sekolah Muhammadiyah bertebaran di seantero Indonesia. Mana ada Ormas lain seperti Muhammadiyah ….? Sombong dikit tidak apa-apa karena sombong kepada orang sombong itu sedekah.

Jangan ragukan penghikmatan Muhammadiyah terhadap bangsa ini. Ada posisi di pemerintahan atau tidak, Muhammadiyah tetap mengabdi pada negeri sampai kiamat. Sekali lagi, Muhammadiyah adalah Ormas kerja bukan nganggur duduk, dzikir sambil menunggu telepon dari pejabat untuk dapat angpau.


Jangan kalian lecehkan Muhammadiyah. Kalian yang melecehkan itu sudah berbuat apa untuk bangsa ini. Ingat do’a orang ikhlas beramal, do’anya langsung diijabah oleh Allah.


Hanya kepada Allah jualah kita berserah diri dan memohon perlindungan.
Wallahu A’lam …


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.