Dua Gajah yang Kalah

Dr. Mohammad Nasih
banner 800x800 banner 678x960

Oleh: Dr. Mohammad Nasih

Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ,

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Pengasuh Rumah Tahfidh Monash Institute Semarang

Redaktur Ahli Hajinews.id


Gajah bertarung sama gajah, pelanduk mati di tengah-tengah.
Ini adalah kisah dua gajah yang tidak ada di dalam kitab Alfu Laylah wa Laylah. Sebab, kisah ini baru ada dalam satu abad terakhir. Sedang kitab itu sudah ditulis pada berabad-abad sebelumnya. Konon di Persia dan/atau India. Dua gajah itu belum lahir. Induk keduanya bahkan juga belum ada di dunia.


Ini kisah dari sebuah hutan belantara yang di dalamnya basic value dibicarakan panjang lebar, tetapi dalam perilaku ternyata dipandang tidak perlu. Yang terpenting untuk bisa mempertahankan hidup dengan wibawa besar adalah basic instinct. Yang kuat bertindak semena-mena memangsa yang kecil dan lemah.

Yang licik dengan leluasa menipu membangun citra diri sebagai yang baik, padahal sesungguhnya benar-benar munafik. Bukan munafik biasa, tetapi munafik yang semurni-murninya. Tak perlu hati nurani. Yang mau hidup dengan tanpa melakukan kekejian tidak kebagian tempat, kecuali di tempat terpencil dan berlahan gersang. Mereka harus memiliki daya tahan.


Dalam instingnya, gajah mestinya tidak bertarung memperebutkan makanan. Sebab, makanannya adalah tumbuh-tumbuhan hijau dan rerumputan yang menghampar di padang yang sangat luas. Tak pernah terjadi kekurangan. Mudah sekali diperoleh sepanjang kaki berjalan. Itulah sebab, gajah tak diberi Tuhan organ tubuh yang jd senjata mematikan. Gading dan belalainya hanya sekedar alat bantu untuk mengerjakan sesuatu yang berat dan menggapai sesuatu yang jauh.

Di samping itu, bisa membuat gajah nampak sangat gagah. Dengan tenaga yang sangat besar, gajah bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar yang tidak bisa dikerjakan oleh yang lainnya.

Pada saat awal kedua gajah lahir, memang ada sedikit cara pandang yang berbeda. Maklum, keduanya walaupun lahir dari rahim yang sama, tetapi dilahirkan di tempat yang berbeda dengan suasana yang berbeda pula.

Kemudian keduanya berjalan di lahan yang berbeda, sehingga memandang berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda. Namun, pada saat awal-awal itu, keduanya bisa duduk bersama membicarakan masa depan padang rumput yang luas yang di bawahnya juga ada sumber air yang harus dijaga untuk mempertahankan hidup semua penghuni hutan. Keduanya bersatu padu, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. 

Namun, entah jin Ifrit dari sudut hutan sebelah mana yang merasuki, tiba-tiba salah satu gajah, yang berusia lebih muda, mengamuk. Dia merasa bahwa bagian makanannya kurang. Padahal, walaupun usia lebih muda, dia merasa sebagai sebagai gajah yang lebih besar dan disegani oleh semua penghuni hutan, bahkan walau sekedar dengan suaranya.

Dia tidak mau duduk bersama lagi dan membuat tempat duduk sendiri, bahkan kemudian menempatkan tempat duduknya sejajar dan berdekatan dengan tempat duduk banteng yang sebelumnya justru berseberangan pandangan. Banteng dipujinya habis-habisan dan dijadikan sebagai raja hutan selamanya.

Akibat kedua gajah itu hidup sendiri-sendiri, tak mau lagi saling sinergi, maka kedua gajah justru hidup dalam keadaan serba sulit. Walaupun sudah bersahabat dengan banteng yang berkuasa di hutan, tetapi suasana hati gajah bertubuh tambun itu tidak jenak. Apalagi melihat saudaranya disuntik mati oleh dokter istana atas suruhan banteng. Untung dia tidak benar-benar mati.

Dia hanya pingsan lalu mati suri. Sedangkan gajah tambun mulai sadar, lalu duduk merenung memakai sarung. Ini tidak ada hubungan sama sekali dengan sarung cap gajah duduk.

Pada suatu saat ketika terjadi keriuhan, kedua gajah terbangun. Keduanya berlari untuk bisa mengambil kesempatan di dalam situasi yang sedang tidak menentu. Namun, keduanya tidak mau menggunakan wujud asli sebagai gajah yang sudah dikenal banyak penghuni hutan.

Dalam waktu yang cepat, keduanya berusaha untuk hamil dan melahirkan anak. Namun, anak yang dilahirkan oleh keduanya, ternyata tidak begitu besar. Walaupun begitu, jika keduanya akur, banyak hewan lain mau ikut bergabung, sehingga yang tidak bersama dua gajah itu, pasti akan kalah.

Ajaib, keduanya dalam sebuah momentum bisa bertemu dan merencanakan sebuah rencana besar untuk menguasai hutan. Dan rencana itu berhasil. Anak gajah tambun berhasil menjadi raja hutan.

Anak gajah yang ramping, tetapi sangat energik, juga mendapatkan posisi yang sangat penting. Posisi-posisi pemimpin di hutan, bisa mereka bagi dengan leluasa. Pokoknya jabatan yang mendukung kerja-kerja gajah itu mereka bagi dengan tanpa hambatan. Semua senang.

Namun, tiba-tiba anak gajah ramping marah dan tidak suka kepada raja hutan. Dia menyusun siasat untuk menurunkan anak gajah yang sedang duduk dengan tenang di atas singgasana dengan sesekali tidur ngorok. Hutan pun menjadi riuh rendah dan sang raja hutan akhirnya berhasil dilengserkan dengan konsekuensi anak banteng menjadi raja. Anak gajah tambun yang lain, untung saja diberi posisi sebagai wakil raja hutan.

Setelah itu, gajah tambun malah sering dimanfaatkan oleh banteng. Padahal banteng dimanfaatkan oleh segerombolan srigala dengan menampilkan rubah di depan. Rubah menikmati posisinya, walaupun dia sangat lemah dukungan. Dia tidak punya anak buah yang bisa mendukung kekuasaannya di hutan. Setelah berkuasa dan ingin berkuasa lagi, rubah memanfaatkan gajah dan berhasil.

Namun, setelah berhasil berkuasa kembali, gajah merasa bahwa dia hanya dimanfaatkan dan kemudian ditinggalkan. Mereka kaget, posisi yang biasanya mereka dapatkan, sekarang diberikan kepada hewan lain. Biasanya mereka bisa dapatkan posisi strategis itu tanpa negosiasi. Kini, tidak bisa lagi.

Itulah sepenggal kisah dua organisme besar, tetapi suka mempersoalkan hal-hal yang kecil-kecil. Ibarat manusia, kedua hewan itu suka meributkan apakah shalat shubuh itu qunut atau tidak qunut, adzan cukup sekali atau dua kali, bersentuhan dengan pasangan batal atau tidak, dan tahlil itu boleh atau haram. Padahal yang lain sudah bicara tentang bulan tiruan yang akan menerangi kota. Maka sudah saatnya dua gajah itu bersatu, agar cita-cita mulia tercapai.

Semua mesti sadar, bahwa yang terjadi, bukan hanya ibarat kata pepatah “Gajah bertarung gajah, pelanduk mati di tengah-tengah”, tetapi “Gajah bertarung gajah, banyak pelanduk mati di tengah-tengah, sedang yang  menangguk untung adalah rubah”. Wallahu a’lam bi al-shawab.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *