Logika Santri

Dr. Mohammad Nasih
banner 800x800 banner 678x960

Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidh al-Qur’an Daar al-Nashiihah Monash Institute Semarang
, dan Redaktur Ahli hajinews.id

Santri perdefinisi adalah orang yang belajar di pondok pesantren dengan fokus ilmu-ilmu keislaman. Dimulai dari ilmu alat, di antaranya yang utama adalah sharaf dan nahwu, untuk memahami bahasa Arab. Sebab, sumber utama Islam adalah al-Qur’an dan hadits yang teks aslinya berbahasa Arab.

Bacaan Lainnya


banner 678x960

Memahami keduanya guna menangkap ajaran-ajaran yang ada di dalamnya tidak akan mungkin, kecuali dengan menggunakan ilmu alat tersebut. Ia ibarat alat tangkap ikan yang harus dibawa oleh nelayan di laut. Tanpa alat tangkap, nelayan tidak akan bisa menangkap ikan walaupun hanya ikan kecil. Bahkan, jika memaksakan diri untuk mengejar ikan di samudra yang luas, maka akan mengalami rasa putus asa, lalu pulang dengan tangan hampa.

Demikian pula santri. Walaupun tinggal di pesantren, tetapi tidak menguasai bahasa Arab, maka tidak akan mendapatkan apa-apa. Segala pelajaran yang disampaikan oleh para guru, akan ibarat masuk ke telinga kanan dan terlepas lagi lewat telinga kiri. Yang lebih serius untuk meningkatkan level diri dari menjadi sekedar santri menjadi ustadz atau kiai, belajar manthiq; biasanya diartikan logika.

Keduanya, baik bahasa maupun logika, sangatlag penting, karena yang pertama untuk lisan dan yang kedua untuk pikiran. Hanya pikiran yang benarlah yang akan membuat kalimat-kalimat yang meluncur dari lisan menjadi beraturan alias benar; mulai dari rangkaian subjek, predikat, dan objek, sampai syarath (jika) dan jawab (maka).

Dari sini, bisa ditarik sebuah benang merah tentang pengertian manusia yang diberikan oleh para filsuf. Kata mereka: “al-insan hayawaanun naathiqun, manusia adalah hewan yang berbicara”.

Kata nathiqun memiliki akar kata yang sama dengan manthiq, dengan bentuk madli na-tha-qa. Makna sesungguhnya adalah manusia adalah hewan yang berlogika. Namun, faktanya tidak semua manusia bisa benar-benar berpikir logis, terutama apabila dihadapkan kepada persoalan yang kemudian memunculkan premis-premis yang rumit. Di sinilah signifikansi manthiq. Ia diperlukan agar manusia berpikir dengan runtut, tidak mengalami kesalahan, dan bisa merangkai kata menjadi kalimat yang benar.

Nah, ada sebuah permasalahan jika logika dipahami dalam perspektif positifisme Barat. Sebab, awalnya paradigma logika tidak seperti yang umum dipahami saat ini dengan basis utamanya, untuk tidak mengatakan satu-satunya, adalah akal atau rasio.

Logika adalah bahasa Yunani yang berakar dari kata logos, sering diartikan ilmu. Pada awalnya, makna logos adalah firman. Ya, firman Tuhan. Sebab, di dalam firman itulah ada ilmu pengetahuan untuk manusia yang pada dasarnya tidak mengetahui apa-apa. Hanya karena sedikit ilmu dari Allahlah, manusia memiliki terhindar dari kebodohan dan meningkat menjadi makhluk berpengertahuan.

Karena itu, tidak tepat pertanyaan tentang lebih tinggi mana antara akal dan wahyu. Akal adalah sekedar sarana untuk menyimpulkan tentang yang benar sebagai yang benar, dan yang salah sebagai yang salah. Sumber dan sekaligus pemandu untuk itu adalah wahyu. Yang langsung merupakan firman Allah adalah al-Qur’an. Sedangkan yang terlaksana dalam kehidupan Rasulullah saw. adalah sunnahnya.

Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw. berisi banyak ajaran yang tidak bisa diverifikasi oleh indera manusia. Tentang yang ghaib terutama, pada umumnya manusia hanya bisa memahaminya jika membaca dan memahami al-Qur’an dan hadits Nabi. Itulah sebab, sebagian manusia tidak percaya kepada agama, karena sebagian ajarannya mereka anggap sebagai mitos belaka.

Santri dengan kemampuan bahasa Arab dan logika yang terlatih akan mampu menangkap fakta bahwa al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad memuat banyak sekali bukti kebenaran ajarannya, karena sebagian yang disampaikan al-Qur’an dan juga Nabi sebagai nubuwwatnya bersifat verifikatif. Beberapa di antaranya adalah:

Pertama, al-Qur’an menantang siapa pun yang ragu terhadapnya untuk membuat atau mendatangkan yang seperti al-Qur’an. Tentu dengan kualitas sastra dan isinya yang dahsyat luar biasa. Bahkan tantangan al-Qur’an sudah sampai level sangat minimalis, yakni satu surat saja (al-Baqarah: 23). Fakta menunjukkan bahwa sampai hari ini tidak ada yang mampu melakukannya. Padahal, tantangan itu tetap terbuka, sejak zaman al-Qur’an sampai sekarang.

Kedua, segala informasi futuristik al-Qur’an, bahkan yang sangat rigid, karena menyebut istilah yang berkaitan dengan angka, terbukti sangat akurat. Sekedar contoh adalah prediksi tentang Abu Lahab dan istrinya akan masuk neraka. Padahal saat QS. Al-Lahab diturunkan dengan kematian Abu Lahab dan istrinya terdapat rentang waktu yang cukup lama yang memungkinkan keduanya bertaubat. Dan kalau bertaubat, maka akan masuk surga.

Namun, sejarah membuktikan bahwa keduanya tetap menjadi penentang Islam sampai hembusan nafas terakhir. Demikian pula dengan prediksi al-Qur’an bahwa Romawi akan kembali mengalahkan Persia dalam rentang waktu beberapa tahun saja. Terbukti pada tahun ketujuh, apa yang dikatakan oleh al-Qur’an itu terjadi. (Al-Rum: 2_4).

Ketiga, makin banyak informasi saintifik al-Qur’an yang menunjukkan kebenarannya. Di antaranya yang paling fenomenal adalah proses kejadian manusia dalam rahim ibunya, dimulai dari saripati tanah, nuthfah, ‘alaqah, mudlghah, tulang, kemudian tulang berbungkus daging, dan kemudian menjadi makhluk baru (al-Mu’minun: 12-14).

Di antara nubuwwat Nabi yang sangat terkenal adalah Konstantinopel akan ditundukkan; pemimpin penundukan itu adalah pemimpin terbaik dan tentaranya adalah tentara terbaik. Nubuwwat itu terbukti setelah 800 tahun diucapkan oleh Nabi.

Dari bukti-bukti konkret itu saja, seorang santri yang memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik ditambah dengan logika yang lurus, maka akan mampu membangun simpulan bahwa jika segala yang dinyatakan oleh al-Qur’an dan juga Nabi Muhammad yang bersifat verifikatif ternyata terbukti, maka segala yang tidak verifikatif di dunia ini, misalnya akhirat, surga, dan neraka, juga mesti dipercayai.

Inilah yang oleh al-Qur’an sendiri disebut sebagai iman kepada yang ghaib. Inilah dasar mengapa santri memiliki kepercayaan yang kuat kepada sesuatu yang oleh manusia yang hanya berparadigma positifistik dianggap sebagai mitos belaka.

Hanya saja, berbagai temuan ilmiah yang menjadi pembuktian kebenaran Islam, baik yang ada dalam al-Qur’an maupun hadits Nabi, justru dihasilkan oleh mereka yang bukan santri, bahkan mengingkari Islam sebagai agama kebenaran.

Dalam konteks ini, santri hanya muncul sebagai sosok apologetik bahwa segala pernyataan al-Qur’an terbukti oleh temuan orang-orang kafir. Karena itu, santri harus meningkatkan diri menjadi murid yang hanya mengonsumsi informasi dari kiai dan juga temuan-temuan baru yang berasal dari pihak lain.

Santrilah yang harus bekerja untuk membuktukan tanda-tanda yang ada di dalam ajaran Islam. Jika orang yang tidak percaya kepada Islam perlu usaha keras untuk merumuskan berbagai hal untuk diteliti dan dibuktikan, seorang santri sesungguhnya telah memiliki banyak sekali tanda-tanda yang seharusnya mendorong mereka menjadi ilmuan-ilmuan penemu untuk makin memperkuat bahwa agama yang mereka anut dan pelajari di pesantren dengan sepenuh tenaga dan keyakinan itu adalah benar-benar kebenaran. Wallahu a’lam bi al-shawab.


banner 800x800

Pos terkait



banner 400x400

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *