Kelengkapan Pribadi Nabi Muhammad






Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monash Institute Semarang
.

Tak ada pribadi selengkap dan secanggih Nabi Muhammad SAW. Dia merupakan manifestasi kesuksesan tidak hanya dunia, tetapi juga akhirat. Dia menyampaikan informasi tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga masa lalu dan masa depan.

Bacaan Lainnya


banner 400x400

Dia sukses tidak hanya secara individu, tetapi juga mengajak banyak orang untuk mendapatkan kesuksesan yang sama dengan sering menekankan keutamaan hidup berjamaah dan bahkan saling menanggung.

Dia tidak hanya membangun keluarga kecil, tetapi jauh lebih dari itu, membangun sebuah negara yang di dalamnya terdapat berbagai entitas SARA. Kelihaiannya mengikat entitas-entitas yang bahkan sebelumnya terlibat konflik keras sehingga tercipta bangunan negara dengan warga yang bhineka menimbulkan decak kagum bukan hannya para ilmuan Timur yang muslim, tetapi juga ilmuan Barat yang tidak percaya kepada ajaran agama yang disampaikannya.

Bahkan di antaranya, Robert N Bellah misalnya, memuji bangunan kenegaraan di Madinah dengan konstitusi pertama tertulis, sebagai sebuah kemajuan yang jauh melampaui zamannya.

Kehidupannya yang luar biasa itu dimulai sebagai seorang anak yatim, tetapi mendapatkan tempat yang tepat dalam usia tumbuh kembangnya. Saat masih bayi dan balita, Muhammad telah diserahkan kepada Halimah al-Sa’diyah dan suaminya Harits untuk diasuh.

Tradisi menyerahkan pengasuhan kepada orang-orang badui ini bukan sekedar untuk mendapatkan air susu yang lebih baik agar menjadi anak yang sehat dan kuat, tetapi juga ada tujuan lain, yaitu mendapatkan pendidikan bahasa yang lebih baik.

Suku-suku badui dikenal memiliki kemurnian bahasa, karena mereka hidup relatif terisolasi. Dengan hidup bersama mereka sejak kecil, maka bahasa yang murni tadi akan bisa dijadikan sebagai kebiasaan bahkan miliu bahasanya juga bisa melekat. Terutama kalangan elite secara sosial pada umumnya menginginkan agar anak-anak mereka memiliki kemahiran berbahasa, sehingga bisa menjadi penyair. Sebab, penyair dianggap sebagai kebanggaan sebuah suku.

Tidak hanya itu, Muhammad juga mendapatkan keterampilan dalam menggembalakan kambing dan menjinakkan unta. Kelak, menurut penafsiran sejarah Lesley Hazleton, beberapa tahun kemudian, kemampuannya itu membuatnya diikutkan dalam sebuah misi dagang ke Syiria yang dipimpin oleh pamannya, Abu Thalib. Sebab, Muhammad bisa diandalkan untuk mengurus unta-unta yang saat itu menjadi moda transportasi utama mereka.

Di luar itu, perjalanan Muhammad ini menjadi salah satu titik penting dalam sejarah kerasulan Muhammad. Sebab, dalam perjalanan itulah, untuk pertama kalinya teridentifikasi ciri-ciri manusia utusan Tuhan oleh seorang pendeta. Keikutsertaan Muhammad ini sekaligus menjadi ibarat kesempatan magang untuk menjadi pengusaha andal.

Dan benar, pengalaman itu membuatnya tidak mengalami kecangggungan apalagi kesulitan, saat Khadijah mempercayakan kekayaannya. Muhammad menjadi fund manager yang sukses, bahkan kemudian memikat hati janda kaya nan cantik itu. Walaupun sesungguhnya ada indikasi bahwa ketertarikan Khadijah itu lebih karena dia sudah menangkap tanda-tanda bahwa Muhammad adalah seorang calon utusan Allah.

Sementara Khadijah sudak sejak belia bercita-cita menjadi istri rasul yang terakhir yang telah dikabarkan di dalam Kitab Injil yang dibacanya. Khadijah menitipkan uangnya kepada Muhammad sesungguhnya hanya untuk memastikan kejujuran dan secara lebih luas integritas Muhammad. Dan benar, Khadijah menemukan itu, bahkan mendapatkan informasi tambahan dari Maysarah, budak yang diperintahkan menyertai perjalanan Muhammad, bahwa perjalanan mereka senantiasa dinaungi awan.

Dengan menjadi suami Khadijah, sebagaimana disebut oleh al-Qur’an, Muhammad yang sebelumnya mengalami kesulitan ekonomi, kemudian menjadi orang yang berkecukupan (al-Dluha: 7). Bahkan saat selesai akad nikah, Khadijah memberikan kebebasan kepada Muhammad untuk menggunakan harta kekayaan melimpah yang ia miliki untuk apa pun yang dia suka. Sesungguunya itu karena dia tahu bahwa saat menjadi rasul kelak di kemudian hari, Muhammad akan membutuhkan dana perjuangan yang tak bisa dihitung-hitung. Maka ia menyerahkan semuanya.

Khadijah benar-benar menjadi pendukung Muhammad, bahkan saat ia melakukan sesuatu yang sangat tidak menguntungkan, saat dia harus berkhalwat di Gua Hira’. Menjelang usia 40 tahun, Muhammad memiliki kebiasaan baru melakukan perenungan di sebuah gua batu di puncak Gunung Nur.

Khadijah, walaupun merupakan pedagang sukses, tidak memandangnya sebagai sebuah aktivitas yang sia-sia karena tidak mendatangkan materi. Sebaliknya, dia mendukung Muhammad dengan selalu menyediakan perbekalan hidup beberapa hari di atas puncak gunung, pulang kembali hanya untuk mengambil bekal lagi untuk kemudian kembali, juga mengamankan kaki gunung itu dengan orang-orang suruhannya untuk berjaga. Saat itulah, ilmu pengetahuan hakiki dari Allah bermula. Muhammad menerima wahyu pertama.

Seorang lelaki profesional, memiliki bakat-bakat unggul, telah membuktikan integritasnya dalam masyarakat, kemudian bertambah status menjadi pemilik ilmu pengetahuan yang langsung dari Allah Swt., karena diangkat menjadi nabi dan rasul. Berbagai kebingungan yang sebelumnya menggelayutinya, kemudian hilang karena petunjuk yang nyata (al-Dhuha: 6). Proses tahannuts yang panjang telah membuatnya mencapai akal tertinggi sehingga firman Allah masuk ke dalamnya dan menjadi petunjuk bagi seluruh ummat manusia (al-Baqarah: 185).

Namun, dakwah kultural memang sangat berat dan implikasinya tidak signifikan. Dakwah yang dilakukan selama belasan tahun, menghasilkan hanya tidak banyak pengikut. Implikasi yang harus ditanggung juga sangat berat. Keyakinan tentang kebenaran yang dia sampaikan membuat Muhammad dan juga para sahabat utama mampu menjalani berbagai penderitaan yang tak tertanggungkan. Bahkan harta kekayaan Khadijah habis tak tersisa akibat harus menanggung kehidupan banyak orang sahabat saat mengalami pemboikotan. Pada saat Muhammad dalam keadaan yang sangat kritis, muncul kesempatan baru. Pada tahun kedua belas kenabian, dia telah menjalin hubungan intensif dengan warga Madinah. Pada tahun ketiga belas, Muhammad diminta untuk menjadi pemimpin di Madinah yang sebelumnya selalu dilanda konflik. Ia jadikan sebagai pemimpin yang diharapkan akan berlaku adil, karena tidak memiliki ikatan apa pun dengan kedua belah pihak, Aus dan Khazraj yang sebelumnya sangat mudah diprovokasi oleh Yahudi untuk saling baku hantam.

Hijrah menjadi momentum penting yang membuat Muhammad memiliki posisi politik sangat penting. Jika sebelumnya Muhammad berdakwah secara kultural, di Yatsrib dia bisa melakukannya secara kultural dan struktural secara sekaligus. Dari Yatsrib, Muhammad bahwa mengirimkan surat-surat kepada raja-raja masa itu, di antaranya Kaisar Romawi, Persia, Mesir, dan lain-lain.

Dari sejarah sosok Muhammad, yang oleh al-Qur’an disebut sebagai uswatun hasanah (al-Ahzab: 21), ummat Islam harus mempersiapkan generasi yang memiliki kualitas lengkap, yaitu: berilmu, berharta, dan berkekuasaan. Ilmu adalah basis, agar kehidupan bisa dijalani dengan benar. Dengan ilmu pula, segala kerja, termasuk untuk mendapatkan harta dan kuasa akan dijalani tidak hanya dengan benar, tetapi juga tidak terlalu sulit. Dengan harta, banyak amal usaha bisa dilakukan. Dan dengan kekuasaan, amal usaha yang oleh kebanyakan orang dilakukan secara individual dengan skala yang sempit, bisa dilakukan dengan skala yang inklusif. Muhammad telah memberikan contoh integralitas antara ilmu dan kekuasaan. Basis ilmunya adalah agama yang benar yang diterimanya dari Allah. Kekuasaan di tangannya menjadi sarana untuk mentransformasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan nyata. Wallahu a’lam bi al-shawab.

banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.