Ibadah Haji: Antara Aksi dan Situasi (Bag 1)


banner 800x800

banner 400x400

Pengantar Redaksi:

Sidang pembaca yang dimuliakan Allah SWT, Insya Allah mulai Ahad (13/10), akan diturunkan tulisan bersambung yang dinukil dari Buku “Ibadah Haji dalam Persepktif Fiqh dan Sosial”.
Buku yang merupakan wakaf dari Bapak Haji Anif ini ditulis oleh pasangan suami istri  Prof Dr. H. Nur Ahmad Fadhil Lubis MA dan Dr Nurhayati M,Ag. Suami Dr Nurhayati M,Ag yakni Prof Dr H Nur Ahmad Fadhil Lubis  sudah meninggal dunia. Sementara Nurhayati adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam serta Wakil Dekan II Fakultas Kesehatan UIN Sumatera Utara. 

Bacaan Lainnya

IBADAH HAJI : ANTARA AKSI DAN SITUASI … The evidense suggests that these changes are more likely due to interaction with hajjis from around the world and attendant awareness of diversity within Islam than to religious instruction or changes in the social role of pilgrims upon return… —David Clingingsmith, Cs. Estimating the impact of the Hajj, 2008 Bukti menunjukkan bahwa perubahan ini lebih disebabkan oleh adanya interaksi dengan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia dan kesadaran yang mengitarinya tentang keragaman dalam Islam, ketimbang disebabkan oleh suruhan agama atau perubahan dalam peranan sosial para haji setelah ke tempat masing-masing. Ini masih nukilan dari hasil penelitian David Clingingsmith dan kawan-kawan dari Universitas Harvard. Meskipun yang dijadikan populasi dan sampel penelitian adalah jamaah haji Pakistan, gejala yang mirip ditemukan pada hampir komunitas Muslim lainnya. Adapun penelitian seperti ini dan sejenisnya masih langka dilaksanakan di Indonesia. Mudah-mudahan di masa mendatang penelitian ilmiah tentang perhajian, termasuk juga “umrah” sudah sepatutnya diadakan di Indonesia. Temuan hasil penelitian ini memang agak mengejutkan. Betapa tidak! Penelitian ini menumbangkan asumsi selama ini bahwa rangkaian ibadah haji memberikan bekas yang mendalam dan memengaruhi sikap, nilai, persepsi, perilaku jamaah haji. Apa yang terjadi di luar itu sering diabaikan dan dianggap tidak relevan, kurang penting. Ternyata, kenyataannya adalah sebaliknya. Berbagai rangkaian ibadah haji, mulai dari ihram, tawaf, sa’i, wukuf, mabit dan ramy di jamarat, termasuk doa’doa yang diutarakan, terkadang sambil menangis, zikir yang tak berkesudahan dan membaca Al-Qur’an yang telah khatam, ternyata tidaklah memberi bekas, bekas yang bertahan lama dalam diri dan jiwa jamaah haji. Yang memberi bekas terbukti justru dari kondisi yang berkembangdan situasi yang mengikuti pelaksanaan ibadah haji tersebut. Masalah ini mengingatkan saya pada dua buah buku yang pernah saya baca tentang haji. Yang satu saya lupa penulisnya dan kedua masih saya ingat terus pengarangnya. Buku yang saya sudah lupa penulisnya itu penuh berisi informasi  dan cerita yang banyak sekali. Hampir segala hal yang terkait dengan perjalanan haji, termasuk air zamzam yang tercemar, pencopet yang beroperasi di Masjidil Haram serta sopir bus yang minta bahsyis (tip) dipaparkan. Yang kurang sekali malah tentang ibadah haji sendiri. Buku kedua ditulis Ali Syariati, seorang ilmuwan terkenal asal Iran yang mendapat pendidikan keislaman  dasar di negeri para mullah ini, kemudian melanjutkan kuliah di Perancis. Ia juga terkenal sebagai aktivis melawan tirani Shah Iran dan ilmuwan terkemuka di mancanegara. Pengetahuan agama yang kuat, ilmu-ilmu sosial modern yang luas dan penguasaan pemikiran filosofis yang mendalam, membuat buku “haji” yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, ini menjadi begitu lengkap dan menarik. Ia mengulas haji bukan saja dari ajaran  fiqh, tetapi juga mengulasnya dari apek sosial budaya dan mengupasnya dari perspektif filosofis, bahkan “irfan. Seorang tokoh nasional kita dan berpendidikan tinggi pernah mengutarakan betapa dia yang telah berkali-kali naik haji, merasa belum “naik” haji yang esensial dan religius. Mengapa demikian? Kelengkapan ilmu dan persiapan pengetahuan tentang ibadah haji, seperti diuraikan di atas tampaknya menjadi syarat mutlak. Ilmu tanpa amal, seperti pohon tak berbuah, namun amal tanpa ilmu malah bisa “berbuah” yang tidak diharapkan. Namun hal ini manusiawi sekali? Manusia biasanya tertarik pada hal-hal yang konkret dan dapat diserap indriawi. Menyerap hal-hal yang abstrak, apalagi merefleksikan yang tak tampak serta memahami yang tersirat merupakan hal yang lebih sulit bagi kebanyakan orang. Mengetahui, menghafal dan melagukan talbiayah: labbaik allahumma labbaik dan seterusnya biasanya lebuh mudah bagi banyak orang. Ini pun masih ada yang mengalami kesulitan. Namun memahami artinya dan menyelami maknanya jauh lebih sulit. Demikian juga rangkaian manasik haji yang lain. Faktor lain adalah kebiasaan manusia bahwa mereka akan tertarik pada hal-hal yang baru dan unik, yang belum pernah dialami sebelumnya. Mengingat latar belakang sebagian besar jamaah haji, maka hal-hal baru kebanyakan tidak terkait dengan ibadah haji. Apakah yang diceritakan oleh jamaah haji ketika sudah pulang dan bercerita dengan sanak keluarga dan handai taulannya? Tentu, yang baru, yang menarik menurut perspektif dirinya. Pesawat terbang, eskalator, lift, orang putih tinggi, tegap atau hitam legam, shalat di masjid tanpa pemisah pria dan wanita, makanan Arab yang “aneh”, penjaga toko yang tak mau ditawar, larangan merokok dan mengambil foto sampai ke toilet yang tak “nyaman”. Apakah ini tidak mengecewakan? Mengecewakan atau tidak mengecewakan tergantung pada perspektif penilai dan tolok ukur yang dipakai untuk menilainya. Paling tidak menurut ukuran yang ditemukan oleh peneliti Harvard tersebut situasi yang mengitari haji ternyata berdampak positif terhadap jamaah haji. Betapa tidak? Mereka menjadi berwawasan lebih luas, lebih toleran terhadap perbedaan serta makin dewasa menyikapi keragaman. Wawasan mereka juga menjadi lebih luas, bahwa kaum Muslimin itu, bukan saja orang berkulit sawo matang dan bertubuh relatif pendek, tetapi banyak orang Islam yang berkulit putih, berambut pirang, dan bertubuh jangkung. Namun demikian, adalah sesuatu yang sangat cukup memprihatinkan jika jamaah haji yang telah menguras tenaga, menghabiskan dana dan memakan waktu yang berharga, di samping menunggu giliran yang cukup lama, berjalan tanpa goresan makna yang lebih mendalam dan pencapaian hikmah  ibadah yang lebih arif dari rangkaian ibadah dan manasik haji itu sendiri. Alangkah baiknya jika seorang jamaah haji bisa menarik arti positif dan konklusi konstruktif dari apa yang dilihat dan dialaminya selama perjalanan haji, tetapi pada saat yang sama, ia juga bisa meraih makna yang dalam dan mencapai hikmah yang bernilai dari manasik haji yang dilaksanakannya. Semoga menjadi tamu Allah yang baik dan mencapai haji mabrur! (Aamiin Ya Robbal alamin …..)


banner 400x333

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.